> Keponakan Menko Polhukam RI Nomor Urut Kedua Hasil Konvensi PSI Surabaya , Begini Penilaian Politisi Senior Lensajatim.id
|
Menu Close Menu

Keponakan Menko Polhukam RI Nomor Urut Kedua Hasil Konvensi PSI Surabaya , Begini Penilaian Politisi Senior

Selasa, 14 Juli 2020 | 13.35 WIB

Foto : Sudarsono Rahman, Politisi Senior sekaligus mantan Ketua DPD Partai Nasdem Kota Surabaya

lensajatim.id Surabaya-Hasil Konvensi PSI mengagetkan banyak pihak, karena Firman Syah Ali yang berhalangan hadir tahapan terakhir, Debat Kandidat, ternyata menjadi pemenang kedua konvensi untuk Calon Walikota Surabaya.

Koponakan Menkopolhukam RI Mahfud MD yang juga penulis ini berhasil memperoleh nilai yang sama dengan pemenang konvensi, Andy Budiman. Nilai Andy Budiman 65,6 sedangkan nilai Firman Syah Ali 65,5. Sementara Dwi Astutik memperoleh Nilai 54 dan KH Zahrul Azhar Asumta 53.

Sontak Politisi senior kota Surabaya, Sudarsono Rahman yang akrab dipanggil Cak Dar angkat bicara "andai Cak Firman ikut proses konvensi sampai selesai, Insya Allah dia yang mendapat rekom PSI, signifikan lho PSI ini, empat kursi" ucap mantan ketua Partai Nasdem Kota Surabaya ini.

"Walaupun Cak Firman merupakan pemenang kedua konvensi PSI, namun nilai tawar Cak Firman untuk menjadi Wakil Walikota tetap paling tinggi" lanjut Cak Dar.

Selanjutnya sesepuh IPNU yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Barisan Kader (BariKade) Gus Dur ini menyampaikan faktor-faktor dominan kenapa Cak Firman merupakan sosok kandidat terkuat Wakil Walikota Surabaya, sebagai berikut :

Pertama, faktor NU. Cak Firman ini sosok pejuang teologi, ideologi serta siyasiyah NU yang legendaris, terutama di media sosial. Posisinya di NU sangat ikonik. Dan ke-NU-an Cak Firman bukanlah mendadak, dia berjuang untuk NU sejak di IPNU, dia yunior dan kader saya di IPNU, bukan NU abal-abal dan NU kaleng-kaleng yang tiba-tiba muncul dalam tahun politik. Saya kira kedua kandidat kuat Walikota Surabaya baik dari PDI Perjuangan maupun dari koalisi Parpol non PDI Perjuangan tidak bisa meninggalkan NU begitu saja.

Kedua, Faktor Madura. Sebagaimana kita ketahui bahwa suku Madura sangat dominan dan signifikan di Kota Surabaya, dan kebetulan kedua calon kuat Walikota Surabaya yang saat ini berkibar sama-sama bukan orang Madura, maka secara geopolitik kedua kandidat kuat Walikota tersebut pasti akan memperebutkan Cak Firman untuk menjadi pasangannya. Jangan lupa bahwa organisasi-organisasi masyarakat madura di Surabaya bahkan Jakarta sudah lama deklarasi pernyataan dukungan kepada Cak Firman, ini menunjukkan seberapa kuat dan mengakarnya cak Firman.

Ketiga, faktor Guru Bangsa. Kita ketahui bersama bahwa Cak Firman merupakan keponakan guru bangsa Prof Mahfud MD, juga mewarisi intelektualitas dan integritas sang paman. Cak Firman juga dipercaya sebagai koordinator Sahabat Mahfud Jawa Timur. Para pecinta dan pendukung Mahfud MD di Surabaya pasti merapat ke Cak Firman.

Keempat, faktor aktivis. Cak Firman merupakan aktivis mahasiswa yang legendaris, demonstran angkatan '98, punya hubungan kultural dan emosional yang sangat kuat dengan tokoh-tokoh aktivis mahasiswa maupun tokoh alumni, baik HMI, GMNI, PMII, GMKI, PMKRI, IMM dan lain-lain. Jangan lupa, KAHMI Jatim mendukung Cak Firman sebagai Calon Walikota Surabaya.

Kelima, faktor Pengalaman Birokrasi. Cak Firman merupakan birokrat yang pernah bertugas di berbagai bidang, awalnya di bidang hukum, kemudian mutasi ke bidang pembangunan, kemudian bidang pendidikan dan saat ini bidang kemasyarakatan. Insya Allah pengalamannya di birokrasi akan sangat membantu pelaksanaan tugasnya nanti sebagai Wakil Walikota.

Keenam, faktor intelektualitas. Intelektualitas Cak Firman sangat menonjol walaupun dia bukan akademisi. Waktu mahasiswa dulu dia berkali-kali menggondol juara kompetisi karya tulis ilmiah, baik nasional maupun regional. Saat inipun walaupun bekerja sebagai birokrat, cak Firman tetap aktif menulis, menyampaikan opini ilmiahnya di berbagai media, baik media nasional maupun media regional.

Ketujuh, faktor bawaan alam. Semua orang mengakui bahwa Cak Firman punya bawaan alam sebagai pemimpin sekaligus pelayan masyarakat yang baik. Performa masuk, tinggi badan, gerak-gerik, kharisma dan wajah sangat mendukung, banyak yang menyebut dia sebagai the little Soekarno, terutama saat berpidato di atas mimbar.  Istilah maduranya model ada, modal ada, jadi lengkap. Bukan hanya bermodel tapi tak bermodal.

"Sebetulnya masih banyak faktor dominan lainnya, yang intinya Cak  Firman sangat layak menjadi pemimpin kota Surabaya. Mari kita doakan" pungkas Cak Dar sambil melanjutkan minum secangkir kopi di warung rakyat. (Hady/Lil)

Bagikan:

Komentar