> Napak Tilas K.H.R. As'ad Syamsul Arifin, Banser Buleleng Jalan Kaki Ziarah Makam Tokoh Pendiri NU
|
Menu Close Menu

Napak Tilas K.H.R. As'ad Syamsul Arifin, Banser Buleleng Jalan Kaki Ziarah Makam Tokoh Pendiri NU

Kamis, 10 Desember 2020 | 07.29 WIB

caption : Sulaiman (dua dari kiri) Anggota Banser dari Buleleng, Bali melakukan napak tilas perjalanan bersejarah Kiai As'ad Syamsul Arifin. foto : istimewa


lensajatim id Surabaya-
Kecintaan pada kiai membuat seorang anggota Banser dari Buleleng, Bali sanggup berjalan kaki dari Situbondo menuju Jombang. Sulaiman long march jalan kaki napak tilas perjalanan sejarah K.H. R. As'ad Syamsul Arifin yang merupakan awal proses berdirinya Nahdlatul Ulama. 


Sulaiman mengungkapkan, pengasuh Ponpes Salafiyah Safi'iyah Sukorejo itu adalah pembawa pesan dari Syechona Kholil, Bangkalan untuk disampaikan kepada KH. Hasyim Asy'ari yang merupakan restu kepada Hadratus Syech untuk mendirikan NU. Ini lah benang merah berdirinya Nahdlatul Ulama yang kemudian dijadikan napak tilas oleh Sulaiman.


"Perjalanan saya dari Situbondo ke Bangkalan kemudian menuju Jombang yang saat ini saya lakoni adalah napak tilas perjalanan Kiai As'ad," tutur Sulaiman saat ditemui saat beristirahat di Jambangan, Surabaya, Rabu (9/12/2020) malam. 


Sulaiman mengaku niatnya melakukan longmarch berawal dari mimpinya bertemu Kiai As'ad. Sejak itu, ia bertekad melakukan tabarukan dengan mengulang napak tilas perjalanan sejarah berdirinya NU. 


Perjalanan longmarch ia mulai dari 10 November 2020 yang merupakan Hari Pahlawan, sekaligus mengingatkan kepada nahdliyin pengkuan pemerintah terhadap Kiai As'ad sebagai Pahlawan Nasional. 


Pria berusia 33 tahun ini bersyukur napak tilas di Bangkalan sudah dilalui dan bisa berziarah di makam Syechona Kholil. Perjalanan selanjutnya, dari Surabaya menuju Jombang dengan melewati rute Sepanjang, Krian, Mojokerto dan Jombang. 


"Saya juga sudah ke Canga'an, pondok pesantren tempat Syekhona Kholi pernah menuntut ilmu. Banyak pengalaman spritual saya alami di sini," imbuh Sulaiman. 


Lulusan pertama Diklatsar Banser Buleleng ini mengakui longmarch berjalan kaki sangat melelahkan. Bahkan sampai di Surabaya ia sudah tiga kali ganti sandal. Namun rasa lelah itu terbayar dengan sambutan hangat para sahabat Ansor dan Banser selama di perjalanan. 


Bahkan beberapa kali ia dikawal dan ditemani berjalan kaki oleh sejumlah anggota Banser di wilayah yang ia lewati. Rasa kekeluargaan ini yang membuat dirinya tambah bersemangat. 


"Seperti saat ini, saya ditemani berjalan kaki oleh sahabat Banser dari Surabaya dan Ponorogo. Sahabat Banser Karang Pilang juga ikut menyambut. Alhamdulillah, bisa menyambung silaturahmi," pungkas lajang kelahiran Kraksaan, Probolinggo ini. (Had)


Bagikan:

Komentar