> Makna Bersekolah
|
Menu Close Menu

Makna Bersekolah

Kamis, 28 Januari 2021 | 16.51 WIB

Moch Eksan disuapi oleh anaknya Rizqina Syawala Fitri


Oleh : Moch Eksan


Rizqina Syawala Fitri, anak ke-2 saya, wajahnya tampak riang gembira. Hari ini dapat pergi sekolah lagi setelah 10 bulan sekolah daring. Kendati cuma 2 jam di sekolah, terlihat wajahnya yang semula murung berubah menjadi ceria.


Setelah Pandemi Covid 19, anak, guru dan orang tua siswa, semua punya keinginan sama. Bersekolah seperti biasa. Sistem daring tak bisa menggantikan tatap muka langsung. Sistem yang disebut terakhir dipandang lebih efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.


Lala, panggilan untuk puteri kelahiran Jember, 8 Oktober 2008 ini, satu di antara jutaan anak Indonesia yang rindu bersekolah kembali. Study at home (belajar di rumah) walau tetap dibimbing guru langsung secara online, tak bisa menjadi new normal dalam makna bersekolah. Sebab, schooling dalam Cambridge English Dictionary,  maknanya education at school (pendidikan di sekolah), training or education at school (pelatihan atau pendidikan di sekolah).


Bersekolah adalah tradisi turun-temurun peradaban dunia, sejak zaman Yunani, Romawi, Persia, Islam sampai sekarang. Oleh sebab itu, sistem pendidikan antar negara di dunia banyak kemiripan. Di 6 negara yang pernah saya kunjungi, sekolah klasikal sudah diterapkan berabad-abad lamanya. Materi dan lama sekolah kurang lebih sama. Di Prancis, enseignement primaire 5 tahun. Di Amerika,  elementary school 6 tahun.  Di Jerman, Hauptschule 4 tahun. Di Australia, primary school 6 tahun. Di Jepang,  shōgakkō 6 tahun. Dan, di Norwegia, grunnskole 6 tahun. Materi sekolah dasar di sejumlah negara tersebut seputar bahasa,  matematika, seni, sejarah, geografi, dan keterampilan.


Gus Dur pernah mengkritik mata pelajaran di Indonesia yang terlalu banyak. Apalagi mata pelajaran madrasah di bawah naungan Kemenag yang kini mencapai 82 ribu lebih madrasah. Padahal, The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization  (UNESCO) menyebutkan hanya ada empat pilar pendidikan, antara lain:


Pertama, learning to know, belajar untuk mengetahui sesuatu sebanyak-banyaknya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi terus diikuti dan dipelajari sepanjang hayat masih di kandung badan.


Kedua, learning to do, belajar untuk melakukan sesuatu sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diketahuinya. Ucapan,  sikap dan tindakan merupakan pengejawantahan dari kompetensi keilmuaan. Dalam ungkapan populer, disebut ilmu yang amaliah,  dan amal yang ilmiah. 


Ketiga, learning to be, belajar untuk menjadi sesuatu sesuai dengan perkembangan dunia profesi dan pekerjaan. Di era digital, banyak profesi yang hilang, namun lebih banyak muncul profesi baru. Inovasi dan kreasi di era disrupsi menimbulkan daya saing yang ketat, manusia dengan manusia, atau manusia dengan mesin. Semua bersaing memperoleh produk barang dan jasa yang paling efektif dan efisien. 


keempat, learning to live together, belajar untuk hidup bersama dengan baik, penuh persaudaraan, perdamaian dan keadilan sosial. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi untuk guna sebesar-besarnya kesejahteraan umat manusia, bukan yang lain. Kerusakan bumi dan pertumpahan darah bukan hanya menyalahi kodrat asal penciptaan manusia,  melainkan mengangkangi kearifan filosofis bahwa science for humanity is not science for science (ilmu untuk kemanusiaan bukan ilmu untuk ilmu).


Gugatan terhadap sistem pendidikan dilatarbelakangi oleh manajemen pendidikan nasional yang belum pernah menghasilkan konsep insan kamil. Manusia unggul terlahir dari sekolah dan luar sekolah. Orang-orang berprestasi tak selalu berbanding lurus dengan tingkat pendidikan. Banyak kasus, mereka justru lahir dari sekolah alam. Sebuah sistem pendidikan yang bebas merdeka, tertuju pada minat dan bakat, mengasah pengalaman sendiri, serta belajar pada pengalaman sukses orang lain.


Sepertinya, dunia pendidikan harus melakukan autokritik secara fundamental dan radikal. Makna bersekolah dalam pengertian homeschooling dan islamic boarding school, hasil akhirnya ternyata tak kalah dengan fullday school. Sebab, schooling telah tercerabut dari akar nilai dan budaya Gurukula (Hindu), Yeshiva (Yahudi), Seminari (Kristen), Madrasah (Islam) dan Hawzas (Syiah). Dimana, pendidikan agama merupakan inti dari pendidikan dunia.


Henry George Liddell dan Robert Scott, dalam Leksikon Yunani-Inggris, mengemukakan bahwa sekolah berasal dari bahasa Yunani σχολή (scholē) yang berarti "waktu luang" atau "waktu senggang". Namun realitasnya, separuh usia manusia habis di bangku sekolah. Sementara, keluarga dan masyarakat sebagai tempat pembelajaran juga kurang maksimal. Ki Hajar Dewantara sudah mengingatkan, setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap buku adalah sumber ilmu.


Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute

Bagikan:

Komentar