> Bupati Pamekasan Promosikan Program Desa Tematik di Airlangga Forum
|
Menu Close Menu

Bupati Pamekasan Promosikan Program Desa Tematik di Airlangga Forum

Sabtu, 20 Februari 2021 | 19.08 WIB


lensajatim id Surabaya- Badrut Tamam, Bupati Pamekasan, Madura, Jawa Timur mempromosikan program Desa Tematik, salah satu program andalannya dalam mewujudkan Pamekasan Hebat sebagaimana jargonnya. 


Tidak tanggung-tanggung, hal tersebut ia sampaikan dalam acara Airlangga Forum yang bertajuk Kampus Membangun Desa yang digelar oleh Sekolah Pasca Sarjana Unair Surabaya, Jumat (19/2/2021) siang.


Pada acara itu, Bupati Muda ini menjadi pembicara bersama sejumlah tokoh, mulai Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal Abdul Halim Iskandar, Prof Moh. Nasih Rektor Unair, Prof Badri Munir Direktur Sekolah Pasca Sarjana Unair. Dan dengan dipandu oleh moderator Prof Suparto Wijoyo.


Bupati yang akrab disapa Ra Badrut ini menjelaskan, pembangunan yang dijalankannya di Kabupaten Pamekasan tidak berdasarkan pada keinginan, akan tetapi berdasarkan persoalan yang ingin diselesaikan. Dengan demikian diharapkan  bisa mendorong Desa bisa naik kelas, dari Desa biasa menjadi Desa yang berkemajuan.


Setidaknya kata mantan Anggota DPRD Jatim ini,  ada lima prioritas program pembangunan yang ia jalankan, yaitu  pendidikan, kesehatan, ekonomi, reformasi birokrasi dan infrastruktur.


Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Badrut, salah satunya dengan program Desa Tematik. "Desa tematik itu saya memilih cara partisipatif, Pak Kades dan seluruh potensi stakeholder di Desa itu harus menemukan minimal satu potensi ekonomi Desa dan apa saja yang mau dikembangkan,” beber Ra Badrut. 


Sebab, kata Ra Badrut, bila Pemerintah Kabupaten langsung ke bawah, masyarakat merasa tidak diajak untuk terlibat dalam pembangunan. Makanya harus menemukan dulu potensi ekonominya. Setelah diketahui potensi yang mau dibangun, baru kemudian pemerintah menyediakan fasilitas.


Mantan Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur ini lalu mencontohkan semisal di Madura masyarakatnya mayoritas  memakai  sarung, tapi tidak ada produksi sarung. "Dari kondisi ini saya mengajak kades, apa yang bisa kita lakukan ? Akhirnya beberapa desa menemukan. Kini ada Desa Songkok,  Desa Sarung dan lainnya. Dari situlah kita kembangkan dengan program Wira Usaha Baru (WUB) untuk seluruh anak-anak muda. Sehingga sekarang ada pelatihan songkok ada kampung songkok, “ tandasnya. 



Badrut menuturkan, dengan program Desa Tematik, kini sudah ada Desa yang produksi aneka ragam industri rumah tangga, diantaranya produksi songkok, sepatu dan lainnya. Kemudian Pemkab membantu melatih SDM-nya, membantu alat produksinya, membantu modal skema dana chanelling dengan skema tanpa bunga.


Selain itu, Pemkab juga membantu mencarikan pasarnya baik offline dan online. Salah satunya dengan  Pemkab membuat Wamira (wira usaha untuk rakyat) yang bernama Wamira Mart. Isinya produk dari masyarakat. Untuk menjaga atmosfir pikiran tetap semangat berusaha masyarakat kaum mudanya dilatih dengan mendirikan Millennial Talent Hub.


Kemudian lanjut Badrut, bidang pendidikan,  Pamekasan IPM yang paling bagus di Madura. Tetapi dirinya menginginkan bisa  bersaing dengan Kabupaten lain di Jawa Timur. Di Pamekasan kata Badrut, banyak anak yang menang olimpiade sains. "Akhirnya saya membuat beasiswa. Tahun lalu sudah 6.000 orang kita beri beasiswa, 2.000 dikerjasamakan dengan pesantren, dan keseluruhannya adalah orang tidak mampu,” jelasnya. 


Pada tahun 2021 ini Pemkab juga membuat beasiswa untuk Universitas. Harapannya akan muncul orang sukses terdidik dari generasi muda desa. Anak muda desa yang punya kecerdasan difasilitasi oleh Pemkab untuk kuliah di perguruan tinggi favorit. Pulang kedesa untuk mengabdi.


Sementara itu Menteri Desa dan PDT Abdul Halim Iskandar mengatakan Madura masuk wilayah yang memprihatinkan dalam bidang peningkatan SDM. Dia berharap kondisi ini diketahui oleh para Kepala Desa di Madura. Karena itu merupakan tuntutan dan tanggungjawab semua untuk terus berupaya agar warganya makin meningkat kualitasnya.


Kementerian Desa melalui pendamping desa, kata Abdul Halim, bertanggunjawab terus menerus meningkatkan kapasitas perannya. Para bupati dan Kepala Daerah j0uga harus menjadi bagian penting dari proses reformasi pembangunan di desa dengan mereformasi cara berfikirnya, paradigmanya yang harus didasarkan pada kenyataan permasalahan, bukan pada keinginan.


“Saya banyak menemukan, bukan hanya didesa, tetapi ditingkat pemerintahan yang lebih tinggi, program perencanaan pembangunan yang berbasis keinginan, bukan berbasis permasalahan. Ini suatu masalah tersendiri yang harus kita rombak untuk percepatan pembangunan di semua bidang,”pungkasnya. (Redaksi)


Bagikan:

Komentar