|
Menu Close Menu

Arti Penting Peringatan Hardiknas Dalam Membangun Peradaban Lewat Pendidikan Versi Ning Lia

Kamis, 02 Mei 2024 | 13.53 WIB

Dr. Lia Istifhama, Anggota DPD RI terpilih. (Dok/Istimewa).

Lensajatim.id, Surabaya- Momentum tanggal 2 Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau yang bisa disingkat dengan Hardiknas bukanlah peringatan seremonial biasa. Lebih dari itu, ada peristiwa penting yang membuat peringatan tersebut sangat berarti bagi sejarah perjalanan pendidikan di Indonesia. 


Menurut Dr. Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jatim terpilih ini, peringatan Hardiknas merujuk pada kelahiran tokoh penting dalam sejarah peradaban pendidikan di Indonesia yaitu lahirnya, Ki Hajar Dewantara, tepatnya 1889 silam. Ki Hajar merupakan seorang kolumnis di berbagai surat kabar waktu itu, dimana salah satu tulisannya yang berjudul Als Ik Een Nederlander Was (Sekiranya Aku Seorang Belanda) di Surat Kabar De Expres,13 Juli 1913), membuat pejabat Hindia Belanda marah besar dan mengasingkan Ki Hajar ke Pulau Bangka.


Perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini lalu menceritakan, Selama menjalankan pengasingan di Belanda, Ki Hajar belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi kala itu dan kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan. Sepulang ke Tanah Air, ia kemudian mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Desain pendidikan inilah yang banyak mengilhami sistem pendidikan nasional sejak dari dulu sampai kini.


Ning Lia lalu membeberkan sejumlah tokoh yang berhasil mendobrak sebuah peradaban lewat jalur pendidikan selain Ki Hajar Dewantara. 


" Selain beliau juga ada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan RA Kartini," tandas Ning Lia, Kamis (02/05/2024).



KH Hasyim Asy’ari,  ini memiliki mahakarya, diantaranya Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, dengan salah satu pesan utamanya: “Kejarlah Ilmu ke mana pun dia pergi. Belajarlah kepada orang yang betul betul memahaminya. Sebab dalam ilmu terdapat obat penyembuh bagi hati yang buta.” 



" Jadi peradaban dan pendidikan, memang dua hal yang tidak akan terpisahkan. Kesadaran akan melekatnya kedua hal tersebut, telah berlangsung sejak dulu," ungkap Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif Versi Forkom Jurnalis Nahdliyin ini. 


Itu sebabnya kata Ning Lia, mengapa pasukan Mongol saat menghancurkan dinasti terakhir Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, mereka bukan hanya membunuh dengan keji semua penduduk saat itu, melainkan juga menghancurkan pusat perpustakaan, membakar setiap buku-buku sejarah, kedokteran dan astronomi di dalamnya dan menennggelamkan buku-buku yang telah tercampur dengan noda darah para cendekiawan muslim, ke sungai Tigris yang disebabkan banyaknya jumlah buku bertinta hitam itu, maka sungai Tigris pun berubah menjadi hitam. Tentu, tujuan Mongol saat itu adalah ingin menutup masa kejayaan Islam yang lekat dengan pengetahuan. 


" Hal sama juga diperlihatkan oleh Jepang, yang mana sesaat setelah negeri sakura tersebut diluluhlantakkan oleh Amerika Serikat (AS) melalui jatuhnya bom atom di penghujung Perang Dunia II, Kaisar Hirohito langsung berkata: “Berapa jumlah guru yang tersisa?”," paparnya.


Dari semua catatan sejarah itu, maka melekatnya pendidikan dan peradaban, adalah hal yang tak dapat terpisahkan.  Dalam agama pun, Islam misalnya, ilmu atau pendidikan, adalah keutamaan bagi manusia. Sebuah hadis menerangkan bahwa Dari Sayyidina Ali ra, Nabi saw bersabda:  “Pernah saya bertanya kepada Jibril tentang orang - orang yang berilmu, maka dia menjawab: “Mereka adalah pelita - pelita umatmu di dunia dan akhirat, Beruntunglah orang - orang yang mengenal mereka dan celakalah orang yang mengingkari dan membenci mereka.”


Kemudian hadis lain seperti yang tertuang dalam Kitab Durratun Nasihin, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tegaknya dunia itu dengan 4 perkara. Dengan ilmu para ulama dengan keadilan para pemimpin negara, dengan kedermawanan orang orang yang kaya, dan dengan doa orang orang fakir.”


Maka, ilmu atau pendidikan memang harus terus mendapatkan atensi utama karena berkaitan dengan kelangsungan generasi bangsa. Bagaimana moral terjaga, tak lain disebabkan seberapa dalamnya kecintaan anak bangsa terhadap ilmu. Namun sayangnya, di momentum Hardiknas kali ini, kita harus menyadari bahwa tidak banyak generasi bangsa yang mau membaca. 


Seperti diketahui, dilansir dari data UNESCO, hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Hal itu berarti, dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang suka dan aktif membaca. Hal ini tentu patut disayangkan karena membaca ataupun dunia literasi yang berkaitan dengan pendidikan, sejatinya obat utama menangkal dampak negatif perkembangan digital, dimana revolusinernya digital terkadang memacu stress. Hal ini disebabkan pilihan  bertransformasi teknologi di era digital bila tidak diimbangi dengan kemampuan dan ketrampilan yang bijak, pasti sangat rentan memacu problema psikis akibat perdebatan yang muncul di tengah interaksi digital, baik interaksi sosial maupun interaksi dengan alat digital.


" Untuk itu, pendidikan harus terus menempati posisi kasta tertinggi dalam segala aspek sebagai bentuk konsistensi menjaga peradaban bangsa yang luhur dan cerdas membaca segala realitas perubahan. Perkembangan digital tanpa ditunjang pondasi pendidikan yang kuat, tentu sangat tidak mungkin menjadi sebuah perkembangan yang mampu memajukan peradaban bangsa," pungkas Keponakan Khofifah Indar Parawansa ini. (Had) 

Bagikan:

Komentar