![]() |
| Tangkap Layar Video Dugaan Pengeroyokan PMI asal Madura di Malaysia.(Dok/Istimewa). |
Video berdurasi 45 detik itu viral di media sosial, memperlihatkan kekacauan dan keributan antara dua kelompok pekerja migran. Teriakan, pukulan bertubi-tubi, dan suasana mencekam terekam jelas dalam insiden yang terjadi di area kerja padat pekerja asing tersebut.
Otoritas Malaysia tengah menyelidiki kasus tersebut secara intensif. Belum ada keterangan resmi mengenai identitas korban maupun pelaku. Dugaan sementara menyebutkan bentrokan dipicu oleh ketegangan lama antarpekerja, namun motif pasti masih dalam pendalaman pihak berwenang.
“Kami sangat prihatin dan akan mengawal kasus ini hingga tuntas. KJRI siap memastikan hak-hak korban dan keluarganya terpenuhi,” ujar seorang pejabat Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kuala Lumpur.
Peristiwa tragis ini memicu gelombang kritik terhadap lemahnya perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia di luar negeri, khususnya yang bekerja di sektor informal seperti konstruksi.
Masyarakat menuntut langkah cepat dan tegas dari pemerintah Indonesia. Tagar #KeadilanUntukPMI dan #LindungiPekerjaMigran menggema di jagat maya, menandakan keresahan publik yang mendalam.
Kementerian Luar Negeri RI menyatakan telah berkoordinasi dengan otoritas Malaysia untuk mendorong proses hukum yang transparan dan menjamin keadilan bagi korban.
Sementara itu, kepolisian Malaysia mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi terkait kejadian tersebut.
“Kami minta semua pihak menahan diri. Serahkan proses penyelidikan pada otoritas yang berwenang,” kata seorang perwira Kepolisian Malaysia.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam upaya perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Pemerintah dan DPR RI sebelumnya juga telah menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap proses penempatan tenaga kerja serta perlindungan hukum di negara tujuan.
Apakah peristiwa tragis ini akan menjadi titik balik kebijakan perlindungan pekerja migran? Publik menanti langkah nyata. (Sumber: Harian Mistar)


Komentar