![]() |
| Ning Lia, Anggota DPD RI asal Jawa Timur.(Dok/Istimewa). |
Pengumuman resmi disampaikan Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, di Kompleks Istana Kepresidenan pada Jumat (1/8/2025). “18 Agustus diliburkan,” ujarnya singkat kepada awak media.
Keputusan ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk dari Senator asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama. Perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kebijakan yang dinilainya sangat pro-rakyat dan aspiratif.
“Harus diakui, Bapak Prabowo adalah sosok Presiden yang memiliki kekuatan dalam membangun hubungan interpersonal. Beliau adalah pemimpin simpatik dan negarawan sejati yang menghadirkan kepemimpinan sebagai kado untuk rakyat,” ungkap Ning Lia, Sabtu (02/08/2025) malam.
Menurut Senator yang dikenal dengan tagline Cantik ini, penetapan 18 Agustus sebagai hari libur mencerminkan kepekaan Presiden terhadap dinamika dan kebutuhan masyarakat di momen Agustusan. Ia menilai, berbagai kegiatan yang berlangsung sepanjang peringatan HUT RI membutuhkan energi besar dari masyarakat, sehingga libur tambahan menjadi waktu yang tepat untuk memulihkan stamina.
“Momentum Agustusan pasti menyita energi masyarakat. Ada perlombaan kampung, acara di kantor, malam tirakatan pada 16 Agustus, hingga upacara pengibaran dan penurunan bendera pada 17 Agustus. Maka wajar jika masyarakat membutuhkan satu hari tambahan untuk merefleksikan semangat kemerdekaan sekaligus memulihkan tenaga sebelum kembali bekerja secara penuh,” jelasnya.
Ning Lia juga menyoroti realita di banyak lingkungan kerja yang sering belum kondusif pasca perayaan kemerdekaan, karena sumber daya manusia (SDM) belum sepenuhnya siap untuk kembali ke ritme kerja normal.
“Dengan libur pada 18 Agustus, tentu masyarakat bisa mengoptimalkan waktu tersebut, baik untuk beristirahat, menyelesaikan agenda kemerdekaan yang belum selesai, maupun kembali mempersiapkan diri secara lebih baik untuk bekerja,” tambahnya.
Keputusan ini pun disebut Ning Lia sebagai bentuk empati kepemimpinan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat secara implisit—meski tidak selalu terucap, namun sangat terasa dampaknya di tengah kehidupan sehari-hari. (Had)


Komentar