|
Menu Close Menu

Dari Modal Rp500 Ribu, Keripik Singkong “Jomblo” di Pragaan Kini Raih Omzet Puluhan Juta per Bulan

Kamis, 05 Maret 2026 | 19.14 WIB

UMKM pelaku usaha Keripik Singkong Jomblo di Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Sumenep – Usaha kripik singkong bermerek “Jomblo” yang dikelola Basri di Dusun Bulu, Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, menjadi bukti bahwa konsistensi mampu menjaga usaha tetap hidup di tengah berbagai rintangan.


Tim Lensajatim.id berkesempatan bersilaturahim langsung ke rumah produksi Basri belum lama ini. Dalam perbincangan hangat tersebut, Basri menceritakan bahwa usaha kripik singkong “Jomblo” mulai dirintis pada akhir tahun 2018 dengan modal awal hanya Rp500 ribu.


“Awalnya kecil sekali. Modalnya cuma lima ratus ribu,” ungkapnya, Kamis (05/03/2026). 


Perjalanan usaha tersebut tentu tidak selalu mulus. Di masa awal, jumlah pekerja sempat mencapai 20 orang. Namun seiring berbagai tantangan, termasuk dampak pandemi Covid-19 dan kondisi cuaca yang kurang mendukung saat musim hujan, jumlah tenaga kerja kini tersisa sekitar 10 orang.


Tak hanya itu, Basri juga mengakui adanya dampak wabah virus pada tanaman pisang yang turut memengaruhi daya beli dan distribusi pasar. Jika sebelum masa-masa sulit itu omzet per bulan bisa menembus Rp70 juta, saat ini rata-rata berada di kisaran Rp20–25 juta per bulan.


Meski demikian, ia tidak menyerah. Bahkan, ia mengaku sempat berada di titik hampir berhenti saat masa pandemi dan musim hujan panjang melanda. Namun tekad untuk bertahan membuatnya tetap melanjutkan usaha.


“Kuncinya konsisten. Bukan berarti tanpa rintangan, tapi harus tetap jalan,” tuturnya.


Yang menarik, selama merintis hingga berkembang, usaha kripik singkong “Jomblo” ini berjalan tanpa bantuan pemerintah. Basri mengandalkan modal pribadi dan perputaran hasil usaha untuk terus bertahan dan mengembangkan produksi.


Kini, meskipun omzet belum kembali seperti dulu, usaha tersebut tetap berjalan dan mampu membantu perekonomian warga sekitar. Sekitar 10 orang tetangga masih diberdayakan untuk bekerja.


“Alhamdulillah, walaupun upahnya tidak seberapa, setidaknya bisa membantu daripada menganggur di rumah,” tambah Basri.


Usaha sederhana dari Dusun Bulu ini menjadi gambaran nyata bahwa UMKM di pelosok desa tetap memiliki daya juang. Dengan modal kecil, kerja keras, dan konsistensi, usaha lokal mampu bertahan bahkan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. (MQ) 

Bagikan:

Komentar