![]() |
| Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP HIPKA), Ali Hasan Mun'im.(Dok/Istimewa). |
Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP HIPKA), Ali Hasan Mun’im, S.E., menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi emas Indonesia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga sehat, tangguh, dan siap menghadapi tantangan global.
“Hardiknas tahun ini memiliki makna istimewa. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini,” ujar Ali Hasan, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, visi besar pendidikan nasional harus berjalan beriringan dengan kebijakan strategis yang mampu menyentuh kebutuhan dasar peserta didik. Dalam konteks tersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai langkah konkret dan berorientasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa.
“Program MBG menjadi salah satu langkah nyata dan mulia dari Presiden Prabowo dalam menyiapkan generasi emas Indonesia. Pendidikan yang berkualitas tidak cukup hanya dengan kurikulum unggul, tetapi juga harus ditopang oleh kesehatan dan asupan gizi yang memadai,” tegasnya.
Wakil Ketua Komite Tetap Pembiayaan Fiskal Perumahan Kadin Indonesia itu menilai bahwa kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kondisi fisik peserta didik. Anak-anak yang memperoleh gizi seimbang memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik dari sisi konsentrasi belajar, kemampuan kognitif, maupun prestasi akademik.
Ali Hasan, yang juga Owner SPPG Kademangan 3 Bondowoso, menuturkan bahwa investasi pada pemenuhan gizi anak sekolah merupakan strategi pembangunan manusia yang sangat mendasar.
“Ketika negara hadir memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi, maka sesungguhnya negara sedang membangun pondasi kecerdasan nasional. Ini adalah investasi besar bagi kualitas SDM Indonesia di masa depan,” katanya.
Ia menambahkan, program MBG juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas karena mampu menggerakkan sektor pangan lokal, memberdayakan pelaku usaha daerah, serta memperkuat ekosistem ekonomi kerakyatan.
Dengan demikian, lanjut Ali Hasan, Hardiknas 2026 harus dimaknai lebih luas sebagai upaya kolektif membangun sistem pendidikan yang holistik, yakni pendidikan yang mengintegrasikan kecerdasan, kesehatan, dan kesejahteraan sebagai satu kesatuan pembangunan bangsa.
“Pendidikan adalah jalan utama kemajuan bangsa. Namun, untuk mencetak generasi unggul, pendidikan harus diperkuat dengan kebijakan nyata seperti MBG. Ini bukan sekadar program sosial, tetapi strategi besar menuju Indonesia Emas,” pungkasnya. (Had)


Komentar