![]() |
| Ning Lia dan Prof Inung saat hadir dalam acara seminar dalam rangka Dies Natalis ke-8 Sekolah Tinggi Agama Islam Sabilul Muttaqin (STAISAM) Mojokerto.(Dok/Istimewa). |
Keduanya sepakat bahwa generasi muda adalah kunci keberlangsungan bangsa. Dalam paparannya, Ning Lia Istifhama mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia akan menjadi berkah jika pemuda dibentuk dengan karakter yang kuat, moderat, dan berempati.
“Generasi muda harus mampu menentukan pilihan, apakah larut dalam arus digitalisasi yang kadang membawa dampak negatif, atau justru membangun moderasi dengan empati tinggi,” ujar Ning Lia.
Sebagai penutup, ia membacakan puisi berjudul Ibu Pertiwi yang menggugah semangat nasionalisme dan mengajak pemuda menjaga jati diri bangsa.
Senada, Prof. Inung menekankan bahwa moderasi beragama bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi cara pandang hidup yang diimplementasikan dalam keseharian. Menurutnya, disrupsi digital membawa peluang sekaligus tantangan.
“Mahasiswa harus bisa memanfaatkan teknologi untuk kebaikan, bukan sebaliknya. Jika tidak dikelola dengan bijak, teknologi bisa memicu konflik dan perpecahan,” tegasnya.
Antusiasme ratusan mahasiswa, dosen, dan tokoh masyarakat yang hadir menunjukkan tingginya kepedulian terhadap isu moderasi beragama. Kehadiran dua narasumber ini dinilai memberi perspektif berimbang antara akademisi dan praktisi, sehingga mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoretis, tetapi juga motivasi praktis untuk menghadapi tantangan zaman.
Momentum Dies Natalis ini diharapkan menjadi inspirasi agar kegiatan serupa terus digelar secara berkesinambungan, memperkaya wawasan serta membentuk generasi muda Mojokerto yang berkarakter, berintegritas, dan siap menghadapi era digital dengan sikap moderat. (Had)


Komentar