|
Menu Close Menu

Mengurai Luka Rasisme, Meneguhkan Kesetaraan: Pesan Besar dari Buku “Melampaui Warna Kulit”

Senin, 17 November 2025 | 10.44 WIB

Launching dan Bedah Buku "Melampaui Warna Kulit: Jejak-Jejak Teologi Anti-Rasisme dalam Kristen dan Islam untuk Indonesia” karya Dr. Nurul Huda.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Probolinggo — Pesan kuat bahwa warna kulit tidak pernah menentukan martabat manusia mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku “Melampaui Warna Kulit: Jejak-Jejak Teologi Anti-Rasisme dalam Kristen dan Islam untuk Indonesia” karya Dr. Nurul Huda. Acara yang digelar Jaringan Intelektual Nahdliyin (JIN) di Cafe Alino Kraksaan, Minggu (16/11/2025), itu dihadiri puluhan intelektual muda, akademisi, dan alumni PMII.


Buku setebal 486 halaman tersebut dibedah bersama peneliti sosial Dr. Achmad Fawaid yang tampil sebagai pembanding. Dalam paparannya, Huda memaparkan akar sejarah rasisme dan bagaimana praktik itu mengakar dalam struktur sosial ketika warna kulit dijadikan tolok ukur nilai manusia. Menggunakan pendekatan teologi pembebasan, ia menyoroti dua tokoh yang pernah menjadi korban rasisme, James H. Cone dari tradisi Kristen Amerika dan Farid Esack dari konteks Islam di Afrika Selatan.


Menurut Huda, kedua tokoh itu membaca ajaran agama bukan sebagai alat penyingkiran, melainkan sebagai kekuatan pembebasan bagi kelompok tertindas. “Sudah saatnya ajaran agama dibaca sebagai kekuatan kesetaraan dan keadilan,” tegasnya.


Huda juga menyoroti kondisi Indonesia yang masih memiliki pekerjaan besar terkait isu rasisme. Ia mengutip data Indeks Mundi yang menempatkan Indonesia pada urutan ke-14 negara paling rasis, serta catatan Komnas HAM tentang 101 kasus pelanggaran berbasis ras dan etnis sepanjang 2011–2018. Contoh-contoh rasisme terhadap komunitas Papua berkulit hitam dan kelompok Tionghoa turut dijadikan ilustrasi betapa konstruksi sosial soal warna kulit masih kuat melekat.


Ia menegaskan, gerakan teologi anti-rasisme harus berangkat dari pengalaman korban di dalam negeri. Pancasila dan UUD 1945, lanjutnya, menjadi fondasi kokoh dalam membangun keadilan rasial, sehingga solusi yang ditawarkan harus relevan, membebaskan, dan memihak korban dengan negara sebagai penggerak utama.


Dalam sesi ulasan, Dr. Achmad Fawaid memperkenalkan konsep Everyday Racism atau rasisme sehari-hari, bentuk diskriminasi terselubung yang kerap tidak disadari. Ia mencontohkan sikap terkejut ketika seseorang dari kelompok minoritas menunjukkan prestasi atau kemampuan fasih berbahasa. Menurutnya, reaksi semacam itu mencerminkan rendahnya ekspektasi sosial terhadap kelompok tersebut. “Justru praktik-praktik kecil seperti ini yang lebih berbahaya karena dianggap lumrah dan jarang dikritisi,” ujarnya.


Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 16.00 WIB ini berjalan interaktif. Dukungan terhadap acara datang dari Bedug Institute, PT Gasgus Cargo Nusantara, dan PC IKA PMII Probolinggo.


Bedah buku ditutup dengan harapan bahwa gagasan teologi anti-rasisme ini tidak berhenti sebagai wacana intelektual, tetapi tumbuh menjadi gerakan nyata untuk menghapus diskriminasi berbasis warna kulit di Indonesia. (Hab) 

Bagikan:

Komentar