![]() |
| Proses Pelepasan KKN Tematik Unira Malang.(Dok/Istimewa). |
Prosesi pemberangkatan berlangsung khidmat pada Senin (12/01/2026), ditandai dengan penyematan jaket kepada perwakilan mahasiswa, pemukulan kentongan, serta peletusan paper confetti sebagai simbol semangat pengabdian yang berkelanjutan.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unira Malang, Abdillah, menegaskan bahwa KKN-Tematik tahun ini dirancang berbasis kajian akademik serta kebutuhan riil desa wisata. Program difokuskan pada pemetaan potensi desa, penguatan SDM pariwisata lokal, penguatan kelembagaan, serta strategi promosi dan pemasaran digital desa wisata.
“Simbol pemukulan kentongan dan peletusan paper confetti menjadi legacy untuk menyalakan semangat pengabdian, dengan tetap memegang tradisi sekaligus menatap dinamika modernitas,” ujarnya.
Abdillah juga menekankan pentingnya pendekatan pentahalix, yaitu sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam mengembangkan potensi wisata berbasis alam, budaya, dan religi di Kabupaten Malang.
Rektor Unira Malang, KH. Imron Rosyadi, SE., M.Si., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa KKN-T diharapkan tidak sekadar menjalankan rutinitas, melainkan mampu menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat.
“Desa wisata bukan hanya destinasi, tetapi ekosistem yang melibatkan masyarakat, budaya, lingkungan, dan tata kelola berkelanjutan. Jaga nama baik kampus dan hadirkan dampak positif selama live-in di desa,” pesannya.
Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa adalah duta Unira Malang sebagai universitas pertama di Kabupaten Malang. “KKN-T kali ini memperkukuh eksistensi kampus melalui program yang berdampak dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tambahnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Drs. Firmando Hasiholan Matondang, M.M., yang hadir langsung pada kegiatan tersebut, menilai keterlibatan perguruan tinggi sangat strategis dalam penguatan SDM dan kelembagaan desa wisata. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah meningkatkan aksesibilitas, atraksi, dan amenitas pariwisata.
“Desa wisata tidak dibangun dalam 1–2 bulan, bahkan 1–2 tahun, tetapi puluhan tahun. Karena itu, yang dibangun adalah momentum, bukan hanya monumen fisik,” tegasnya. Ia berharap kesadaran wisata, kepedulian terhadap kebersihan, dan pelestarian alam dapat tumbuh kuat melalui peran aktif generasi muda.
Acara pemberangkatan ditutup dengan doa yang dipimpin Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Raden Rahmat Malang, KH. Dr. Ramadlan Chatib, M.H. Hadir pula Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Wakil Rektor IV, para dekan, ketua program studi, serta dosen pendamping lapangan. Mahasiswa akan menjalankan pengabdian dalam 15 kelompok yang tersebar di 15 desa wisata di Kabupaten Malang. (Aud)


Komentar