![]() |
| Mahfud MD bersama Prabowo Subianto. (Dok/Antara). |
Oleh : R Abdul Hamid Suryodirjo
Lensajatim.id, Opini- Dalam diskursus sejarah dan politik Indonesia, terdapat fenomena menarik mengenai relasi antara kepemimpinan Indonesia modern dengan silsilah nasab walisongo. Banyak peneliti, sejarawan dan pakar nasab meyakini bahwa para pemimpin besar Indonesia—mulai dari era Soekarno, Soeharto hingga tokoh kontemporer seperti Prabowo Subianto dan Mahfud MD—memiliki garis keturunan yang berhulu pada Sunan Ampel (Raden Rahmat), imam besar Wali Songo. Artikel ini menelaah fenomena tersebut melalui perspektif sejarah, genealogi (ilmu nasab) dan sosiologi kepemimpinan.
1. Perspektif Genealogi Jalur Nasab Sunan Ampel.
Sebetulnya gelar asli wali songo adalah Makhdum, Maulana, Sayyid, Syarif, Panembahan atau Ki Ageng. Gelar Sunan terhadap Wali Songo adalah gelar tidak sezaman. Penyeragaman gelar tersebut dilakukan oleh para pujangga Kraton Surakarta Hadiningrat beberapa abad setelah Wali Songo wafat. Berarti gelar Sunan adalah gelar anumerta dalam kitab sastra kepada sembilan orang ulama besar senasab yang berjasa membangun peradaban islam nusantara. Sunan Ampel dikenal sebagai "Bapak para Wali" di Tanah Jawa. Menurut Naqobah Ansab Auliya' Tis'ah (NAAT), silsilah beliau tersambung kepada Rasulullah SAW.
Menurut Agus Sunyoto dalam bukunya yang fenomenal, Atlas Wali Songo, penyebaran keturunan Sunan Ampel tidak hanya melalui jalur agama, tetapi juga melalui pernikahan politik dengan penguasa-penguasa lokal. Hal inilah yang menyebabkan "gen kepemimpinan" tersebut menyebar ke dalam trah kerajaan-kerajaan Nusantara yang kemudian menurunkan para pemimpin bangsa Indonesia modern.
2. Jejak Keturunan pada Pemimpin Nasional.
Para pakar sejarah dan nasab sering kali mengaitkan para Presiden RI dan tokoh nasional dengan silsilah Keturunan Walisongo. Proklamator RI Ir Soekarno membantah tutur tinular dalam sejarah alternatif bahwa dirinya merupakan putera Raja Surakarta Hadiningrat. Beliau menegaskan bahwa dirinya memang anak dari R Soekemi Sosrodiharjo, seorang aristokrat jawa yang hidup sederhana. Sebagai aristokrat jawa, tentu saja nasab R Soekemi tersambung ke raja-raja Mataram, sedangkan Raja-raja Mataram (trah Sultan Agung) merupakan keturunan Walisongo.
Sama dengan Ir Soekarno yang membantah dirinya anak Raja, Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto juga membantah bahwa dirinya keturunan bangsawan Mangkunegaran. Bahkan pemerintah orde baru membreidel majalah yang menulis silsilah Soeharto ke Pura Mangkunegaran serta memenjarakan penulisnya. Namun dalam sejarah alternatif, tetap berkembang opini bahwa Soeharto merupakan trah Mataram. Pengembangan opini ini tidak lepas dari kosmologi dan mitologi jawa bahwa orang besar pasti keturunan orang besar juga.
Presiden ketiga RI BJ Habibie dari ayahnya memang Bugis/gorontalo, tapi dari ibunya (RA Tuti Marini) merupakan aristokrat mataram, yang otomatis merupakan trah Sunan Ampel. Kakek BJ Habibie dari pihak ibunya adalah Raden Mas Ngabehi Puspowardojo. Tidak ada perdebatan ataupun bantahan tentang ini, bahkan Habibie mengakuinya dengan bangga.
Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid tentu tidak perlu diperdebatkan lagi tentang darah walisongonya, karena beliau merupakan cucu KH Hasyim Asy'ari yang nasabnya tersambung ke Kraton Pajang, dari Kraton Pajang langsung tersambung ke Sunan Ampel.
Presiden kelima Megawati Soekarnoputeri tersambung nasabnya ke Walisongo secara jelas melalui ibundanya Fatmawati Soekarno. Dokumen biografi resmi menyebutkan bahwa fatmawati keturunan keluarga kesultanan Indrapura Sumatera Barat. Dalam catatan beberapa naqobah disebutkan bahwa kerajaan-kerajaan pesisir sumatera barat banyak melakukan pernikahan politik dengan keluarga kerajaan jawa. Diyakini bahwa keturunan raja-raja pesisir Sumatera Barat masih keturunan dari Sayyid Amir. Sedangkan Sayyid Amir merupakan keturunan Sunan Ampel yang berdakwah di Sumatera.
Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono dalam literatur sejarah lokal di Pacitan disebut sebagai keturunan dari Raden Mas Tumenggung Djojonegoro (lebih dikenal sebagai Kanjeng Jimat), Bupati Pacitan abad ke-19. Kanjeng Jimat merupakan keturunan Pangeran Notopuro, yang merupakan putra dari Paku Buwono I (Raja Mataram Islam/Kasunanan Surakarta). Trah Pakubuwono I otomatis merupakan trah Sunan Ampel melalui Sultan Agung.
Presiden ketujuh, Joko Widodo juga sering diopinikan sebagai keturunan ningrat Mataram, bahkan sempat viral silsilahnya waktu musim kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres). Memang banyak yang membantah catatan silsilah tersebut, apalagi viralnya menjelang Pilpres. Namun Agus Sunyoto menyatakan bahwa elit desa seperti kakek jokowi yang seorang lurah di wilayah vorstenlanden (pusat kerajaan) hampir selalu merupakan keturunan bangsawan mataram yang memilih hidup di desa (ndeso). Dengan analisis Agus Sunyoto tersebut, diduga Jokowi juga merupakan keturunan Wali Songo melalui keluarga Mataram.
Presiden kedelapan, Prabowo Subianto merupakan keturunan Sultan Hamengkubowono I dari KRT Banyak Wide (loyalis Pangeran Diponegoro). Hal ini tidak diperdebatkan oleh siapapun.
Jadi, pemimpin Nasional RI yang silsilahnya jelas ke Walisongo adalah BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto. Sedangkan nasab Ir Soekarno, Soeharto, Megawati Soekarnoputeri dan Jokowi masih menjadi perdebatan publik karena selain dibantah sendiri oleh yang bersangkutan, juga tidak ada catatan silsilah yang rinci dan otoritatif.
Selain para kepala negara tersebut, sejumlah tokoh nasional juga merupakan dzurriyah Walisongo. Sebut saja Mahfud MD yang merupakan keturunan Kyai Abdul Qidam Arsojih Pamekasan, Raden Azhar Seda Bulangan Pamekasan dan Kyai Agung Toronan Pamekasan, nasabnya tersambung ke Sunan Ampel dan Sunan Kudus. Mahfud MD merupakan generasi ke-15 dari Sunan Kudus dan generasi ke-17 dari Sunan Ampel.
3. Pendapat Pakar.
Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah menekankan bahwa deislamisasi sejarah sering kali mengaburkan fakta bahwa kemerdekaan Indonesia dan kepemimpinannya adalah hasil dari pergerakan kaum santri yang merupakan keturunan spiritual dan biologis para Wali.
Sementara itu, dari sudut pandang sosiologi politik, Prof. Sartono Kartodirdjo pernah menyinggung mengenai konsep Wahyu Keprabon. Dalam konteks modern, "Wahyu" ini sering dikaitkan dengan karomah Sunan Ampel yang termanifestasi dalam bentuk kemampuan memimpin (leadership) dan daya terima masyarakat (legitimacy) yang luar biasa terhadap anak cucunya dari generasi ke generasi.
4. Karomah Sunan Ampel dalam Kepemimpinan Modern
Dalam teologi Islam Nusantara, karomah seorang wali tidak berhenti saat beliau wafat, melainkan terus mengalir kepada keturunannya (barakah). Sebagaimana Sunan Ampel menyatukan berbagai suku di bawah panji Islam tanpa konflik besar, para presiden Indonesia memiliki kemampuan unik untuk menjaga keutuhan NKRI di tengah keberagaman.
Munculnya sosok seperti BJ Habibie dipandang sebagai manifestasi kecerdasan para Wali dalam menguasai teknologi pada zamannya (seperti pembangunan Masjid Agung Demak). Konsistensi tokoh seperti Mahfud MD dalam hukum dipandang sebagai warisan ketegasan Sunan Ampel dalam menegakkan syariat dan moralitas di Tanah Jawa.
Kesimpulan.
Estafet kepemimpinan nasional di Indonesia bukan sekadar proses politik elektoral, melainkan memiliki akar sejarah dan spiritual yang dalam. Hubungan darah dan ideologis dengan Sunan Ampel memberikan dasar moralitas dan kharisma yang kuat. Fenomena ini membuktikan bahwa Indonesia tetap berada dalam lindungan "karomah" para leluhurnya yang menginginkan negeri ini dipimpin oleh mereka yang memiliki komitmen pada Ketuhanan, kemanusiaan dan Kerakyatan.
*)Penulis adalah pegiat kajian Nasab dan Sejarah Wali Songo/Wakil Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK)
NB: Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis


Komentar