|
Menu Close Menu

Sarjana Hukum UINSA Pilih Beternak, Amin Buktikan Desa Bisa Jadi Ladang Sukses

Selasa, 24 Februari 2026 | 16.53 WIB

BANGKALAN, lensajatim.id - Di tengah anggapan bahwa anak muda lebih memilih merantau atau bekerja di sektor formal, langkah Moh Amin Imron (29) justru berjalan ke arah sebaliknya.


Pemuda asal Desa Galis, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, ini memilih bertahan di kampung halaman dan menekuni dunia peternakan sapi dan kambing, sektor yang kerap dipandang sebelah mata oleh generasi sebayanya.


Menariknya, Moh Amin bukan sekadar lulusan sekolah biasa. Ia merupakan Sarjana Hukum dari UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Alih-alih mengejar karier di kantor, atau lembaga hukum di kota besar, Amin justru memilih kembali ke desa dan membangun usaha peternakan yang ia beri nama Lalang Temor Farm.


“Saya kuliah hukum bukan berarti harus kerja di kantor. Ilmu itu bisa dipakai di mana saja, termasuk untuk mengelola usaha agar lebih tertib dan berkembang,” ujarnya.


Amin, begitu ia akrab disapa, memulai usahanya dengan modal terbatas. Tanpa latar belakang pendidikan peternakan, ia hanya berbekal tekad, keberanian, dan keyakinan bahwa desa menyimpan peluang besar jika digarap dengan sungguh-sungguh.


“Dulu banyak yang ragu. Katanya anak muda jarang ada yang betah di kandang. Tapi saya yakin, kalau dikelola serius, peternakan bisa menjanjikan,” ujar Amin mengenang masa-masa awal merintis usaha. Selasa (24/2/2026).


Keputusan Amin untuk menjadi peternak sempat dipandang sebagai langkah mundur. Saat teman-temannya sibuk melamar pekerjaan atau merantau ke kota, ia justru sibuk membersihkan kandang, merawat sapi, dan mencari rumput pakan.


Awalnya, ia hanya memiliki beberapa ekor sapi. Setiap hari ia belajar secara otodidak, membaca referensi, bertanya kepada peternak senior, hingga mengamati langsung pola perawatan yang efektif. Baginya, kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses.


“Sejak lulus, saya berpikir harus punya usaha sendiri. Saya lihat potensi di desa ini besar, terutama di peternakan. Dari situ saya mulai pelan-pelan,” kisahnya.


Ia menyadari, bahwa beternak bukan sekadar memberi makan dan menunggu panen. Ada manajemen kesehatan ternak, pengaturan pakan, pencatatan keuangan, hingga strategi pemasaran yang harus diperhatikan.


Keseriusan itu perlahan membuahkan hasil. Ternaknya tumbuh sehat, kepercayaan pembeli meningkat, dan perputaran usaha semakin stabil.


Tak berhenti pada sapi, Amin kemudian mengembangkan peternakan kambing sebagai diversifikasi usaha di Lalang Temor Farm. Strategi ini ia pilih agar perputaran ekonomi lebih dinamis. 


Penjualan kambing yang relatif lebih cepat membantu menjaga arus kas, sementara sapi menjadi investasi jangka menengah hingga panjang.

Ia juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jaringan pemasaran. 


Foto dan video ternaknya diunggah secara rutin. Komunikasi dengan calon pembeli dilakukan secara daring, sehingga pasar tak lagi terbatas pada lingkup desa.


“Sekarang zamannya digital. Anak muda punya keunggulan di situ. Kita bisa pasarkan lewat media sosial, bangun jaringan online, bahkan kerja sama dengan pedagang besar,” jelasnya.


Bagi Amin, menjadi peternak milenial berarti berani menggabungkan cara tradisional dengan inovasi modern. Kandang harus bersih, pencatatan keuangan rapi, dan pelayanan kepada pembeli profesional.


Keberhasilan Amin bukan hanya soal bertambahnya jumlah ternak. Usahanya mulai membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Ada yang membantu perawatan ternak, ada pula yang terlibat dalam distribusi pakan.


Limbah ternak pun tidak terbuang percuma. Ia mengolahnya menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan petani setempat. Pola ini menciptakan siklus ekonomi yang saling menguntungkan. Peternakan berkembang, pertanian terbantu, dan desa semakin produktif.


“Kalau usaha kita berkembang tapi lingkungan tidak ikut maju, rasanya kurang lengkap. Saya ingin peternakan ini juga bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya.


Kini, kandang Lalang Temor Farm sering menjadi tempat diskusi bagi pemuda desa yang tertarik terjun ke dunia peternakan. Amin tak segan berbagi pengalaman, termasuk tentang kerugian dan ternak yang pernah sakit.


“Namanya usaha pasti ada jatuh bangunnya. Pernah rugi, pernah ternak sakit. Tapi dari situ kita belajar. Jangan takut gagal, yang penting terus evaluasi,” katanya.


Bagi Amin, tantangan terbesar bukan hanya soal modal, tetapi stigma. Banyak yang masih menganggap peternakan identik dengan pekerjaan kotor dan kurang bergengsi. Padahal, kebutuhan daging sapi dan kambing terus meningkat setiap tahun, terutama menjelang hari raya.


Ia ingin mengubah pola pikir tersebut. Menurutnya, selama dikelola dengan manajemen yang baik, peternakan adalah sektor yang memiliki prospek cerah.


“Anak muda jangan takut kotor atau gengsi turun ke kandang. Justru dari kandang ini kita bisa bangun masa depan,” pesannya tegas.


Kisah Moh Amin Imron, sarjana hukum yang memilih kandang daripada kantor, menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari gemerlap kota besar. Dari Lalang Temor Farm di Desa Galis, ia membangun mimpi, kemandirian, dan harapan baru bagi desa.


Bagi para peternak muda lainnya, langkah Amin adalah pesan kuat. Jangan ragu memulai dari kecil. Dengan kerja keras, konsistensi, dan keberanian berinovasi, peternakan bisa menjadi jalan sukses sekaligus cara membangun desa dari dalam. (Syaiful)

Bagikan:

Komentar