|
Menu Close Menu

Resmi Gelar Rakorwil di Surabaya, JAPNAS Jatim Rumuskan Langkah Strategis Hadapi Dinamika Ekonomi Global

Sabtu, 11 April 2026 | 16.34 WIB

Rakorwil JAPNAS Jawa Timur di Hotel Novotel  Samator, Surabaya.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya – Ketua Umum Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) Jawa Timur, Mohammad Supriyadi, menegaskan bahwa posisi Jawa Timur sangat vital dalam peta ekonomi Indonesia. Ia menyebut provinsi ini sebagai salah satu penggerak utama yang menentukan kekuatan organisasi di tingkat nasional.


“Kalau Jawa Timur melempem, jangan berharap organisasi ini di daerah lain bisa besar. Jawa Timur adalah penggerak,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) II yang digelar di Hotel Novotel Samator Surabaya, Sabtu (11/4/2026).


Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) Jawa Timur menegaskan kebangkitannya setelah sempat mengalami kevakuman akibat pandemi COVID-19. Organisasi ini kini menyatakan kesiapan untuk kembali mengambil peran strategis dalam menggerakkan ekonomi, baik di tingkat regional maupun nasional.


Menurut Supriyadi, Rakorwil II menjadi momentum konsolidasi penting untuk menghidupkan kembali peran organisasi pascapandemi. Ia optimistis JAPNAS Jatim mampu kembali aktif dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi.


Didirikan pada Februari 2018 di Surabaya, JAPNAS Jatim dikenal sebagai salah satu pengurus wilayah yang aktif dan konsisten dalam mendukung agenda organisasi di tingkat pusat. Meski menjadi wilayah ke-8 yang terbentuk, kontribusinya dinilai signifikan dalam memperkuat peran JAPNAS secara nasional.


Rakorwil II ini juga merupakan kelanjutan dari agenda sebelumnya yang telah digelar di Sumenep. Selain mempererat hubungan antaranggota, forum ini difokuskan untuk merumuskan langkah strategis dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.


Dalam kesempatan tersebut, Supriyadi menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Ia mengingatkan bahwa digitalisasi kini telah menjadi fondasi utama dalam dunia usaha modern.


“Pengusaha harus melek teknologi. Kalau tidak, kita bisa tertinggal,” katanya, mengutip pandangan Bill Gates.


Secara nasional, Jawa Timur merupakan penyumbang ekonomi terbesar kedua setelah DKI Jakarta. Beragam sektor unggulan seperti pertanian, manufaktur, hingga pariwisata menjadikan provinsi ini sebagai salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia.


“Semua kebutuhan strategis nasional, mulai dari ketahanan pangan hingga energi, banyak tersedia di Jawa Timur. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan,” tambahnya.


Sejalan dengan arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, JAPNAS Jatim menyatakan komitmennya untuk mendukung penguatan produksi dalam negeri, kemandirian ekonomi, serta pembangunan berkelanjutan.


Dalam forum yang sama, Ketua Harian PP JAPNAS, Widiyanto Saputra, memaparkan bahwa dinamika ekonomi global turut berdampak pada kondisi daerah. Ia menyebut inflasi bulanan Jawa Timur mencapai 0,39 persen pada Maret 2026.


“Dampaknya cukup terasa terhadap daya beli masyarakat. Namun pemerintah telah melakukan berbagai langkah, mulai dari menjaga harga BBM hingga penyaluran bantuan sosial,” ujarnya.


Meski menghadapi tantangan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur masih berada pada kisaran 4,7 hingga 5,7 persen. Angka ini dinilai tetap positif, meski perlu didorong lebih tinggi untuk mengejar target pertumbuhan nasional sebesar 8 persen.


“Jika Jawa Timur ingin tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional, maka pertumbuhannya harus bisa melampaui 8 persen,” tegasnya.


Di sisi lain, realisasi investasi di Jawa Timur menunjukkan tren menggembirakan dengan capaian sekitar 8,1 persen, melampaui target yang ditetapkan. Namun demikian, indikator industri menunjukkan perlunya kewaspadaan, seiring penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia menjadi 50,1 pada Maret 2026, dari sebelumnya 53,8 pada Februari.


Rakorwil juga mengangkat peluang dari berbagai program nasional, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dinilai membuka ruang besar bagi pelaku usaha, terutama dalam sektor penyediaan bahan pangan dan distribusi logistik.


“Setiap dapur membutuhkan telur, beras, sayur, minyak, hingga susu. Ini peluang nyata bagi pengusaha lokal untuk masuk dalam rantai pasok,” ungkap Widiyanto.


Selain itu, sektor industri susu dalam negeri juga dinilai memiliki prospek besar. Saat ini, produksi nasional baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan, dengan Jawa Timur—khususnya Malang—menjadi salah satu kontributor utama.


Para peserta Rakorwil juga menekankan pentingnya program yang berdampak langsung bagi pelaku usaha, terutama UMKM. Kegiatan seperti business matching, pelatihan rutin, hingga kolaborasi dengan perguruan tinggi dinilai perlu terus diperkuat. 


Tak hanya itu, penguatan struktur organisasi turut menjadi perhatian. JAPNAS Jatim berkomitmen membangun kepengurusan yang lebih efektif serta memperluas jaringan hingga ke tingkat kabupaten dan kota.


Sebagai tindak lanjut, JAPNAS Jatim akan menggelar Musyawarah Wilayah (Musywil) II pada 31 Juli 2026 di Grand Mercure Malang Mirama. Forum tersebut diharapkan menjadi tonggak penting dalam merumuskan arah organisasi ke depan.


“Momentum ini bukan sekadar kebangkitan organisasi, tetapi juga komitmen untuk menghadirkan dampak nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Supriyadi. (Had) 

Bagikan:

Komentar