|
Menu Close Menu

Sejumlah Daerah Berebut Tuan Rumah Muktamar NU 2026, Bangkalan Nyatakan Kesiapan

Jumat, 10 April 2026 | 07.51 WIB

KH. Mohammad Nasih Aschal.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya — Rencana pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tahun 2026 terus menjadi perhatian berbagai kalangan. Sejumlah daerah di Jawa Timur mulai diusulkan sebagai lokasi penyelenggaraan forum tertinggi organisasi tersebut.


Beberapa wilayah yang mencuat antara lain Surabaya, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, hingga Situbondo. Masing-masing daerah dinilai memiliki potensi dan kesiapan untuk menjadi tuan rumah perhelatan lima tahunan tersebut.


Dari sejumlah usulan itu, Kabupaten Bangkalan menunjukkan keseriusan. Cicit KH Saichona Cholil, KH. Mohammad Nasih Aschal atau yang akrab disapa Lora Nasih, menyatakan kesiapan daerahnya apabila mendapat dukungan mayoritas pengurus NU se-Indonesia.


“Selama memang mayoritas atau seluruh PCNU se-Indonesia menginginkan Bangkalan jadi tuan rumah, insya Allah kami siap,” ujar Lora Nasih, Kamis (9/4/2026).


Ia menilai, Muktamar NU bukan sekadar agenda organisasi, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat soliditas internal. Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi ruang penyelesaian berbagai dinamika yang sempat muncul, sehingga NU semakin kokoh sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.


“Kami berharap Muktamar bisa berjalan lancar. Kalaupun ada dinamika, semoga tidak sampai menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. NU pada dasarnya mampu menyelesaikan persoalannya sendiri,” tegasnya.


Anggota DPRD Jawa Timur dari Partai NasDem itu juga menekankan pentingnya hasil muktamar untuk kembali menguatkan khitah NU. Ia mendorong agar kepengurusan ke depan semakin fokus menghadirkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan masyarakat.


“Untuk mengembalikan pandangan positif masyarakat, NU harus semakin aktif mengenalkan diri, mengedepankan khitah, serta menerjemahkan konsep rahmatan lil ‘alamin secara nyata,” ungkapnya.


Lora Nasih turut menyoroti peran strategis Rais Aam dalam struktur kepemimpinan NU. Ia menilai, posisi tersebut memiliki peran penting sebagai pengayom dan penjaga marwah organisasi di tengah dinamika yang berkembang.


“Kalau saya pribadi, sosok Rais Aam perlu lebih ditonjolkan karena marwah NU berada di sana,” pungkasnya.


Sementara itu, pelaksanaan Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada Juli–Agustus 2026 di Jawa Timur, dengan ketua pelaksana Saifullah Yusuf. Momentum ini diharapkan semakin memperkuat peran NU dalam menjaga persatuan serta memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan masyarakat luas. (Had) 

Bagikan:

Komentar