|
Menu Close Menu

Manfaatkan Lahan Kosong, Abunali Ja'far Alumni Universitas Trunojoyo Madura Pilih Budidaya Pisang di Sampang

Minggu, 12 April 2026 | 16.58 WIB

Abunali Ja'far saat di kebun pisang yang ia kelola di Desa Mambulu Barat, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang. (Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Sampang– Di sebuah sudut Desa Mambulu Barat, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, lahan yang dulunya terbengkalai kini perlahan berubah menjadi hamparan hijau yang menjanjikan harapan. Di balik perubahan itu, ada tangan dingin seorang anak desa, Abunali Ja’far, yang memilih pulang dan menanam masa depan dari tanah yang sempat dilupakan.


Alumni Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu mendirikan Sahabat Pisang Farm pada Agustus 2025. Baginya, lahan kosong yang terbengkalai selama puluhan tahun bukan sekadar tanah tak terpakai, melainkan peluang untuk bangkit dan memberi manfaat.


“Semua dimulai dari nol. Saya bersihkan semak belukar, olah tanah, buat bedengan, sampai siapkan lubang tanam,” tutur Abunali, Minggu (12/04/2026), mengenang proses awal yang penuh kerja keras.


Ia merawat tanah itu dengan penuh kesabaran, menetralkan pH menggunakan kapur dolomit dan memberi nutrisi melalui pupuk kandang fermentasi. Baginya, tanah bukan hanya media tanam, tetapi juga amanah yang harus dijaga.


Langkah berikutnya adalah menghadirkan bibit unggul. Tiga varietas dipilih dengan cermat: pisang Cavendish, pisang kepok kuning tanpa jantung, dan pisang raja bulu kuning. Bibit tersebut didatangkan dari PT Hijau Surya Biotechindo di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.


Namun, Abunali tidak tergesa-gesa. Ia memahami bahwa setiap tanaman membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Bibit-bibit itu terlebih dahulu dirawat dalam polybag selama sekitar satu bulan, sebelum akhirnya dipindahkan ke lahan utama dan dipelihara dengan pemupukan bertahap—mulai dari pupuk kandang, urea, hingga NPK.


Perlahan tapi pasti, kerja keras itu mulai berbuah. Dari sekitar 80 pohon yang ditanam di lahan seluas 2.750 meter persegi, lima tandan pisang telah berhasil dipanen. Sementara itu, sekitar 20 tandan lainnya tengah menunggu waktu untuk dipetik.


Bagi Abunali, hasil tersebut bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa ketekunan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang. Ia kini menatap masa depan dengan rencana menambah hingga 100 pohon baru, dengan fokus pada pengembangan pisang Cavendish sebagai komoditas unggulan.


Pasar pun mulai terbuka. Permintaan datang dari dapur penyedia konsumsi di sekitar lokasi, meski masih terbatas. Di sisi lain, pisang kepok kuning tanpa jantung telah lebih dulu memiliki pasar yang stabil di kalangan pedagang lokal. Sementara pisang raja bulu kuning masih dalam tahap penjajakan pasar. 


Di balik capaian itu, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah penguasaan teknik ripening atau pematangan buah pascapanen agar kualitas produk mampu bersaing di pasar modern. Namun, bagi Abunali, setiap tantangan adalah bagian dari proses belajar.


Pengalamannya sebagai konsultan lingkungan pada 2010–2015 dan tenaga pendamping koperasi pada 2016–2019 menjadi bekal penting. Ia mengelola usahanya dengan pendekatan berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara hasil ekonomi dan kelestarian lingkungan.


Lebih dari sekadar usaha, Sahabat Pisang Farm adalah cerita tentang keberanian untuk kembali, tentang keyakinan bahwa desa menyimpan masa depan, dan tentang harapan yang tumbuh bersama setiap daun yang menghijau.


Abunali ingin membuktikan bahwa pertanian bukan pilihan terakhir, melainkan jalan mulia yang mampu membawa kesejahteraan. Ia berharap langkah kecilnya bisa menginspirasi generasi muda untuk tidak ragu pulang dan membangun dari tanah sendiri.


Ke depan, ia menargetkan pengembangan hingga 180 pohon, peningkatan kualitas pascapanen, serta perluasan jaringan pemasaran agar pisang dari Madura dapat dikenal lebih luas.


Di lahan yang dulu sunyi, kini tumbuh kehidupan. Dan di antara deretan pohon pisang itu, tersimpan cerita tentang mimpi yang dirawat dengan kesabaran. (Had) 

Bagikan:

Komentar