![]() |
| Foto: Penyerahan Pataka Orado oleh Ketum PB Orado Yooky Tjahrial, kepada Ketum Orado Jadi Mahenda Abdillah Kamil. Sabtu (28/2/2026). |
SURABAYA, lensajatim.id - Domino tak lagi sekadar permainan meja. Di tangan Orado Jawa Timur, ia sedang didorong naik kelas, menjadi olahraga profesional yang terstruktur, lengkap dengan perangkat wasit, klub, hingga ambisi membangun industri kompetisi.
Momentum itu ditegaskan dalam pelantikan pengurus dan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) training referee Orado, Jawa Timur di Hotel Harris Surabaya, Sabtu (28/2/2026). Bukan seremoni biasa. Ini titik start percepatan pembentukan ekosistem domino kompetitif di 38 kabupaten/kota.
Ketua Umum PB Orado, Yooky Tjahrial, datang membawa visi besar: domino harus masuk orbit industri olahraga nasional.
“Olahraga itu bukan hanya bertanding, tapi juga tontonan. Ke depan pertandingan harus dikemas menarik, bisa disiarkan, melibatkan emosi penonton. Di situlah spot industri olahraga Orado mulai terbentuk,” tegasnya.
Menurut Yooky, kekuatan sebuah cabang olahraga, ada pada komunitas dan suporternya. Ketika pertandingan bisa ditonton, emosi penonton terbangun, atlet punya fans, klub punya pendukung. Dari situ industri bergerak. Sponsor masuk, brand ambassador tumbuh, liga terbentuk.
“Struktur boleh berjenjang, tapi yang paling penting kerja kolektif dan tanggung jawab pada kinerja. Kita bangun dengan semangat kekeluargaan, tapi tetap profesional,” tandasnya.
Ketua Umum Orado Jawa Timur, Mahenda Abdillah Kamil, S.Stat., menegaskan fokus tahun ini adalah memperkuat fondasi kompetisi. Tanpa wasit terlatih dan klub aktif, mimpi besar sulit diwujudkan.
“Kalau ingin jadi olahraga besar, kita harus punya wasit yang terlatih dan klub yang aktif. Saat ini pelatihan 60 wasit sedang berjalan dengan partisipasi dari 38 kota. Ini modal penting untuk kompetisi yang fair dan profesional,” ujarnya.
Orado Jatim juga menjadwalkan rangkaian kegiatan 2–30 Maret 2026. Targetnya jelas, menambah jumlah atlet di tiap cabang dan mendorong lahirnya klub-klub baru agar laga antar-klub bisa digelar rutin.
“Stigma negatif tentang domino mulai luntur. Sekarang masyarakat mulai melihat ini sebagai olahraga dengan aturan dan pembinaan,” tambah Mahenda.
Sementara itu, pembina Orado Jawa Timur, Saiful Bahri Siregar, S.H., M.H., menegaskan pekerjaan rumah terbesar adalah mengubah persepsi publik.
“Selama ini domino sering diasosiasikan dengan perjudian. Kami ingin membuktikan bahwa ini cabang olahraga yang bisa dipertandingkan secara nasional. Jawa Timur harus ambil bagian dalam kejuaraan nasional,” tegasnya.
Saat ini Orado tengah berproses mendapatkan pengakuan resmi dan mendaftarkan diri sebagai anggota KONI. Langkah itu krusial untuk membuka akses pembinaan lebih luas dan peluang masuk agenda resmi multi event olahraga.
Di daerah, optimisme juga menguat. Ketua ORADO Pengcab Bangkalan, Helmi, menegaskan kesiapan daerahnya mendukung pembinaan atlet secara berkelanjutan.
“Momentum pelantikan ini menjadi dorongan kuat bagi kami di daerah untuk memperkuat pembinaan dan meningkatkan kualitas kompetisi,” ujarnya.
Helmi, menargetkan partisipasi aktif pada Kejurprov dan Kejurnas mendatang.
“Kami optimistis siap menyukseskan pengembangan olahraga domino, terutama dalam pembinaan atlet dan partisipasi di level kabupaten, provinsi hingga nasional. Ini momentum melahirkan atlet berprestasi melalui pembinaan yang terstruktur,” tegasnya.
Domino kini sedang mencari panggung barunya. Dari meja warung ke arena kompetisi. Dari stigma ke prestasi. Tinggal konsistensi yang akan menentukan. Sekadar wacana, atau benar-benar menjadi industri olahraga baru di Jawa Timur. (Syaiful)


Komentar