![]() |
| Gus Hilman saat memberikan bantuan paket sembako pada para korban banjir di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.(Dok/Istimewa). |
Bantuan tersebut diberikan sebagai respons atas kebutuhan mendesak warga setelah banjir merendam permukiman dan mengganggu aktivitas harian. Sejumlah rumah sempat terendam akibat luapan sungai yang dipicu hujan berintensitas tinggi pada 21–22 Februari 2026.
“Yang paling penting hari ini dapur warga tetap menyala. Sembako ini kami salurkan supaya keluarga di Opo Opo bisa bertahan di hari-hari sulit setelah air masuk rumah,” ujar Gus Hilman, Sabtu (28/02/2026).
Data sementara mencatat, banjir berdampak pada enam kecamatan di Kabupaten Probolinggo. Rinciannya, Kraksaan 810 KK, Krejengan 264 KK, Gading 11 KK, Besuk 23 KK, Kotaanyar 14 KK, dan Pakuniran 100 KK. Total warga terdampak mencapai 1.222 kepala keluarga.
Desa Opo Opo yang berada di wilayah Krejengan menjadi salah satu titik prioritas penyaluran bantuan. Kawasan tersebut diketahui kerap terdampak banjir ketika debit sungai meningkat.
Selain penanganan darurat, Gus Hilman menekankan pentingnya penyelesaian persoalan banjir dari hulu. Ia mengingatkan agar tidak ada praktik penebangan liar yang memicu kerusakan lingkungan dan memperparah bencana ekologis.
“Di sinilah perlunya sinergi semua pihak untuk menyelesaikan banjir yang hampir tiap tahun terjadi di Probolinggo,” katanya.
Menurutnya, bantuan logistik tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Setiap penyaluran harus menjadi pintu masuk pembenahan yang lebih sistematis, mulai dari pendataan kerusakan, identifikasi titik luapan sungai, hingga perbaikan drainase dan penguatan mitigasi.
“Bantuan ini bukan garis finis, ini garis start. Setelah sembako, yang harus berjalan adalah kerja bersama memperbaiki aliran air, memperkuat tanggul, dan membenahi tata kelola lingkungan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar pembangunan kawasan permukiman memperhatikan daya dukung lingkungan. Hilangnya ruang resapan dan perencanaan drainase yang kurang matang, menurutnya, hanya akan memperbesar risiko banjir di masa depan.
“Kalau ruang resapan hilang dan drainase tak dihitung serius, yang menanggung akibatnya rakyat,” pungkasnya. (Ham)


Komentar