![]() |
| Sucipto, Dosen Universitas Terbuka (UT) Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Transformasi Pantai Galung tidak terjadi dalam semalam. Tahun 2023 menjadi titik awal ketika Sucipto bersama masyarakat menyusun siteplan pengembangan kawasan. Rancangan tersebut menjadi peta jalan yang mengarahkan pembangunan Galung dari kondisi awal yang masih murni tanpa konsep wisata.
“Penataan awal kawasan dan pembangunan gerbang desa adalah langkah simbolik bahwa Juruan Daya tidak lagi sekadar memiliki pantai, tetapi siap mengelolanya,” ujar Sucipto, Jumat (21/11/2025).
Pada 2024, pendampingan diperkuat dengan pelatihan tata kelola destinasi. Masyarakat, perangkat desa, dan pemuda lokal dilatih memahami pelayanan wisata, kebersihan kawasan, hingga manajemen lokasi. Pada tahun yang sama, lima gazebo dibangun sebagai fasilitas awal bagi wisatawan. Kehadiran gazebo tersebut tidak hanya menambah kenyamanan pengunjung, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga.
Memasuki 2025, pengembangan kawasan melaju lebih dinamis melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, media, dan arsitek lokal. Desain pengembangan Pantai Galung diperbarui agar lebih ramah keluarga, termasuk pembangunan area bermain anak. Upaya ini semakin memperkuat posisi Galung sebagai destinasi yang inklusif dan menarik bagi berbagai kalangan.
Meski banyak pihak mulai terlibat, Sucipto tetap menjadi figur yang menjaga konsistensi arah pengembangan sejak gagasan awalnya lahir. Kehadirannya yang berkelanjutan membuat proses transformasi berjalan tidak sporadis, melainkan terencana dan tepat sasaran.
Atas komitmennya dalam pengabdian masyarakat, Sucipto dianugerahi Anugerah Cakravidya kategori Pengabdian kepada Masyarakat pada acara SENMATER LPPM Universitas Terbuka yang digelar 20 November 2025 di Gedung UTCC Pondok Cabe. Penghargaan tersebut menegaskan bahwa perubahan yang kini dinikmati Pantai Galung berakar dari kerja panjang, komitmen, serta kemampuan menjalin kolaborasi erat dengan masyarakat.
Kini, Pantai Galung bukan hanya menjadi wajah baru pariwisata Desa Juruan Daya, melainkan simbol keberhasilan gerakan kecil yang tumbuh menjadi perubahan besar. Kolaborasi antara desa dan akademisi menunjukkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan dapat terwujud saat gagasan, kerja keras, dan kebersamaan berjalan seiring.
Sebagaimana diyakini Sucipto, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten, dan Pantai Galung menjadi bukti terbaik dari keyakinan itu. (Had)


Komentar