|
Menu Close Menu

Peringatan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad S.A.W.: Pesan Shalat dalam Perspektif Spiritual dan Sosial

Kamis, 15 Januari 2026 | 08.34 WIB


Oleh: A. Effendy Choirie

Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)

Pendahuluan

Lensajatim.id, Opini- Peristiwa Isra’ dan Mikraj Nabi Besar Muhammad S.A.W. merupakan salah satu momentum paling agung dan transformatif dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar perjalanan fisik Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, melainkan sebuah perjalanan spiritual, moral, dan sosial yang sarat makna bagi kehidupan umat manusia.


Puncak dari peristiwa luar biasa tersebut adalah diterimanya perintah shalat secara langsung oleh Nabi Muhammad S.A.W., tanpa perantara. Hal ini menegaskan posisi shalat sebagai ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Shalat bukan hanya ritual individual, tetapi fondasi pembentukan manusia beriman, berakhlak mulia, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.


Dalam konteks keindonesiaan hari ini—ketika kemiskinan, ketimpangan sosial, krisis moral, serta melemahnya solidaritas sosial masih menjadi tantangan serius—pesan shalat yang lahir dari peristiwa Isra’ Mikraj menemukan relevansi yang sangat kuat dan aktual.


Shalat sebagai Fondasi Spiritualitas

Secara spiritual, shalat merupakan mi’raj-nya orang beriman. Ia menjadi sarana komunikasi langsung antara manusia dan Allah SWT, ruang perjumpaan batin yang menghadirkan kesadaran terdalam tentang makna hidup dan pengabdian.


Dalam shalat, manusia diajak untuk:

Menyadari keterbatasan diri, bahwa kekuasaan mutlak hanyalah milik Allah SWT.


Menata hati dan niat, agar hidup tidak dikendalikan oleh keserakahan, egoisme, dan ambisi duniawi.


Menumbuhkan kesabaran, ketundukan, serta ketenangan jiwa—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.


Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat yang dijalankan dengan kesadaran dan kekhusyukan akan melahirkan manusia yang bersih secara batin, lurus secara moral, dan bertanggung jawab secara sosial.


Dimensi Sosial Shalat

Shalat tidak berhenti pada kesalehan personal. Ia memiliki implikasi sosial yang sangat kuat dan mendalam. Dalam gerakan shalat, manusia diajarkan kesetaraan—semua berdiri sejajar di hadapan Allah tanpa membedakan status sosial, jabatan, kekayaan, maupun kekuasaan.


Shalat berjamaah menanamkan nilai-nilai:

Disiplin kolektif,

Kepemimpinan yang amanah dan bertanggung jawab,

Kebersamaan, persatuan, dan solidaritas sosial.


Lebih dari itu, shalat sejatinya melahirkan kepekaan terhadap penderitaan sesama. Seseorang yang rajin menunaikan shalat, tetapi abai terhadap kemiskinan, ketidakadilan, dan jeritan kelompok rentan, pada hakikatnya telah kehilangan ruh shalat itu sendiri.


Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”

(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah ritual tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Kesalehan spiritual harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap keadilan dan kemanusiaan.


Isra’ Mikraj dan Tanggung Jawab Sosial Bangsa

Dalam perspektif kebangsaan, pesan Isra’ Mikraj dan shalat sangat sejalan dengan cita-cita Indonesia yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.


Shalat mengajarkan nilai-nilai fundamental kehidupan berbangsa:

Kekuasaan adalah amanah, bukan alat penindasan.

Kekayaan adalah titipan, bukan untuk ditumpuk secara serakah.

Negara dan masyarakat memiliki kewajiban moral untuk melindungi fakir miskin, anak terlantar, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.


Di sinilah peran organisasi sosial, termasuk Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), menjadi sangat penting—sebagai jembatan antara nilai-nilai spiritual agama dan praktik nyata pembangunan kesejahteraan sosial yang berkeadilan.


Penutup

Peringatan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad S.A.W. seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan ritual tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi sekaligus transformasi, baik secara pribadi maupun sosial.


Shalat yang lahir dari peristiwa Isra’ Mikraj adalah panggilan untuk:

Memperkuat iman,

Memperbaiki akhlak,

Menegakkan keadilan sosial,

Dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.


Jika shalat benar-benar hidup dalam diri umat dan para pemimpin bangsa, maka Indonesia yang adil, sejahtera, dan bermartabat bukanlah sebuah utopia, melainkan sebuah keniscayaan.

Wallahu A’lam Bish Shawab.

Bagikan:

Komentar