![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama dalam acara Rapat Terbuka STAI Taruna Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Bagi Lia, capaian akademik bukan soal gengsi berkuliah di luar negeri, melainkan tentang proses, kemandirian, dan keberkahan dalam menuntut ilmu.
“Alhamdulillah, saya S1 di tiga kampus: IAIN, UNAIR, dan STID Taruna. Kalau dihitung-hitung, biaya per semester waktu itu tidak sampai Rp1,5 juta,” ujarnya di Surabaya, Kamis (26/02/2026).
Ia merinci, biaya kuliah di IAIN sekitar Rp450 ribu, di UNAIR Rp750 ribu, dan di STID Taruna sekitar Rp200 ribu per semester.
Menurutnya, keterjangkauan biaya tersebut membuktikan bahwa akses pendidikan tinggi di Indonesia terbuka luas bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh.
Lia mengisahkan, saat menyusun skripsi, ia bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri.
Pengalaman itu, menurutnya, menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan kemandirian.
“Saat skripsi saya kerja untuk membiayai kuliah sendiri. Jadi memang dari awal terbiasa mandiri,” tuturnya.
Untuk jenjang magister (S2), Lia memperoleh beasiswa dalam negeri sehingga tidak mengeluarkan biaya pribadi.
Sementara ketika menempuh S3, ia mendapat bantuan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPP) selama satu tahun. Meski demikian, ia tetap mengeluarkan dana pribadi hingga belasan juta rupiah sampai menyelesaikan studi doktoralnya.
“Kalau ditotal mungkin dana pribadi saya sekitar Rp30 juta sampai doktoral. Artinya, pendidikan itu tidak harus mahal dan tidak perlu gengsi. Yang penting adalah keberkahan dan kesungguhan,” tegasnya.
Menurut Lia, pengalaman akademiknya menjadi bukti bahwa perguruan tinggi dalam negeri memiliki kualitas yang mampu melahirkan tokoh bangsa.
Ia menilai, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh lokasi studi, melainkan oleh integritas, kerja keras, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Banyak alumni dalam negeri yang jadi tokoh nasional, pemimpin daerah, akademisi hebat. Jadi tidak ada alasan merasa kurang percaya diri,” katanya.
Secara rasional, ia menambahkan, sistem pendidikan nasional terus berkembang dengan dukungan akreditasi, riset, serta kolaborasi internasional. Hal tersebut memperkuat daya saing lulusan tanpa harus selalu menempuh pendidikan di luar negeri.
Bagi Lia, pendidikan adalah investasi karakter dan kompetensi. Ia berharap generasi muda tidak terjebak pada gengsi institusi, tetapi fokus pada kualitas diri dan kontribusi bagi bangsa. (Had)


Komentar