|
Menu Close Menu

Dorong Perempuan Kuasai STEM, Wakil Ketua MPR: Kunci Inovasi dan Daya Saing Bangsa

Senin, 09 Maret 2026 | 20.27 WIB

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta– Peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang science, technology, engineering, dan mathematics (STEM) dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing dan inovasi Indonesia di masa depan.


Hal itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/3/2026). Ia menegaskan, keterlibatan perempuan dalam sektor sains dan teknologi harus terus diperluas agar potensi sumber daya manusia nasional dapat dimanfaatkan secara optimal.


Menurut Lestari, sejumlah data menunjukkan masih adanya kesenjangan gender yang cukup signifikan di bidang STEM, baik dalam dunia pendidikan maupun dalam dunia kerja. Padahal sektor tersebut menjadi pilar penting dalam pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan percepatan transformasi digital.


Berdasarkan data International Labour Organization (ILO) tahun 2024, perempuan hanya mencakup sekitar 35 persen dari total lulusan bidang STEM di Indonesia. Dari jumlah tersebut, yang benar-benar bekerja di sektor sains dan teknologi bahkan hanya sekitar 8 persen.


Perempuan yang akrab disapa Rerie itu menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukan terletak pada kemampuan akademik perempuan, melainkan pada berbagai hambatan sosial yang masih membatasi ruang gerak mereka.


“Banyak perempuan memiliki prestasi yang sangat baik di bidang sains dan matematika, tetapi masih menghadapi stereotip gender dan hambatan sosial yang membuat mereka tidak melanjutkan karier di bidang tersebut,” ujarnya.


Rerie menjelaskan, hambatan tersebut kerap muncul sejak usia dini melalui ekspektasi sosial yang memengaruhi tingkat kepercayaan diri anak perempuan terhadap bidang sains dan teknologi. Akibatnya, banyak perempuan yang tidak memandang STEM sebagai pilihan karier yang realistis.


Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja berbasis teknologi terus meningkat seiring berkembangnya ekonomi digital dan kecerdasan buatan. Karena itu, memperluas keterlibatan perempuan dalam sektor STEM menjadi langkah strategis agar Indonesia memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk menghadapi perubahan global.


Kesetaraan perempuan di bidang STEM bukan sekadar isu keadilan sosial, tetapi juga kepentingan strategis bangsa. Jika setengah potensi intelektual bangsa tidak diberi ruang yang sama untuk berkembang, maka kita kehilangan peluang besar untuk memperkuat inovasi nasional,” tegasnya.


Untuk itu, Rerie mendorong sistem pendidikan dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia agar memberikan perhatian lebih terhadap penguatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi.


Ia juga menilai sekolah dan perguruan tinggi perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, serta memberikan ruang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam riset, diskusi ilmiah, hingga kepemimpinan akademik.


“Ketika akses perempuan di bidang STEM dibuka lebih luas, Indonesia tidak hanya mewujudkan kesetaraan gender, tetapi juga memperkuat fondasi sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar