|
Menu Close Menu

DPR RI Desak Investigasi Menyeluruh Gugurnya Prajurit TNI di Misi Perdamaian Lebanon

Senin, 30 Maret 2026 | 19.59 WIB

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Andina Thresia Narang. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta– Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Andina Thresia Narang, mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh atas gugurnya prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon.


Andina menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya, kepergian prajurit terbaik bangsa bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga besar TNI, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.


“Saya menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas gugurnya prajurit TNI kita di Lebanon. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Ini adalah kehilangan yang sangat menyakitkan, karena prajurit kita gugur saat membawa mandat perdamaian,” ujar Andina, Senin (30/3/2026).


Prajurit TNI yang gugur diketahui bernama Farizal Rhomadhon. Ia meninggal dunia akibat serangan Israel pada 29 Maret 2026 pukul 20.44 waktu setempat di Lebanon. Almarhum meninggalkan seorang istri, Fafa Nur Azila (25), dan seorang anak, Shanaya Almahyra Elshanu, yang masih berusia dua tahun.


Menurut Andina, insiden tersebut harus dipandang serius karena melibatkan personel pasukan penjaga perdamaian yang memiliki mandat menjaga stabilitas serta membuka ruang diplomasi di tengah konflik.


“Pasukan perdamaian hadir untuk menjaga harapan agar konflik tidak meluas. Oleh karena itu, serangan apa pun yang membahayakan mereka tidak dapat ditoleransi. PBB harus memastikan ada penyelidikan yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel,” tegasnya.


Peristiwa itu terjadi di wilayah Lebanon selatan, tepatnya di sekitar posisi kontingen Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dekat Adchit al-Qusayr. Sebuah proyektil dilaporkan meledak di dekat pos, menewaskan satu personel Indonesia dan melukai beberapa lainnya. Hingga kini, asal proyektil masih dalam proses penyelidikan.


Andina menekankan pentingnya langkah cepat pemerintah, mulai dari proses repatriasi jenazah secara hormat, penanganan maksimal bagi korban luka, hingga penguatan jalur diplomasi Indonesia di tingkat internasional.


“Negara harus hadir penuh. Pemerintah perlu memastikan seluruh personel kita mendapatkan perlindungan maksimal, dukungan diplomatik, dan kejelasan langkah ke depan,” ujarnya.


Ia juga mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan pasukan Indonesia di wilayah misi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.


Lebih lanjut, Andina mengingatkan agar konflik di Timur Tengah tidak terus mengalami eskalasi. Ia menilai jalur diplomasi dan penghormatan terhadap hukum internasional harus kembali menjadi prioritas utama.


“Perang bukan solusi. Semua pihak harus kembali ke jalur diplomasi dan menghormati hukum internasional. Jangan sampai dunia kehilangan nurani,” katanya.


Sikap tersebut sejalan dengan pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, yang menegaskan pentingnya akuntabilitas atas insiden tersebut serta mengingatkan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian merupakan pelanggaran serius hukum humaniter internasional.


“Duka ini harus melahirkan ketegasan. Prajurit perdamaian tidak boleh terus menjadi korban di tengah kelambanan dunia internasional,” pungkas Andina. (Red) 

Bagikan:

Komentar