|
Menu Close Menu

Guru Besar UIN Madura Ajak Masyarakat Maknai Ramadhan Lebih Mendalam

Selasa, 10 Maret 2026 | 10.03 WIB

Guru Besar UIN Madura, Achmad Muhlis. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan– Bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter dan penguatan nilai sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal itu disampaikan Guru Besar UIN Madura, Achmad Muhlis, yang menilai puasa memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial yang penting bagi kehidupan bersama.


Menurut Muhlis, puasa sejatinya merupakan latihan moral yang membentuk manusia agar lebih reflektif, disiplin, serta peka terhadap nilai kemanusiaan. Melalui ibadah tersebut, individu diajak menata kembali hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sosial.


“Puasa memiliki fungsi sosial yang penting, yaitu membangun kesadaran kolektif tentang pengendalian diri, solidaritas sosial, serta tanggung jawab moral terhadap kehidupan bersama,” ujar Muhlis, Rabu (10/03/2026). 


Di tengah kekhusyukan Ramadhan, masyarakat di berbagai daerah juga memiliki tradisi meramaikan suasana dengan petasan dan kembang api, terutama menjelang berbuka puasa maupun saat malam takbiran. Bagi sebagian masyarakat, tradisi ini menjadi ekspresi kegembiraan menyambut bulan suci dan hari kemenangan.


Muhlis menjelaskan, fenomena tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika budaya populer yang berkembang di masyarakat melalui proses imitasi sosial dan reproduksi tradisi. Seiring waktu, praktik tersebut menjadi kebiasaan kolektif yang diterima luas, meski tidak selalu memiliki dasar teologis dalam ajaran agama.


“Dentuman petasan dan cahaya kembang api sering dipandang sebagai simbol euforia kolektif yang menghadirkan suasana meriah di ruang publik. Namun, praktik ini juga perlu disikapi secara bijak karena dapat menimbulkan gangguan ketertiban maupun risiko keselamatan,” jelas Direktur IBS PKMKK itu.


Ia menilai penggunaan petasan sering kali berkaitan dengan kebutuhan psikologis, terutama bagi anak-anak dan remaja yang mencari sensasi kegembiraan melalui pengalaman suara dan cahaya yang memicu antusiasme. Meski demikian, tanpa pengawasan yang tepat, penggunaan petasan dapat berpotensi menimbulkan kecelakaan maupun gangguan bagi masyarakat sekitar.


Karena itu, Muhlis menekankan pentingnya peran berbagai pihak dalam mengelola fenomena tersebut secara bijak. Pemerintah, misalnya, dapat menghadirkan regulasi yang jelas terkait batasan penggunaan petasan demi menjaga ketertiban dan keamanan publik.


Namun menurutnya, pendekatan regulatif saja tidak cukup. Edukasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat melalui kampanye keselamatan, penyediaan alternatif hiburan yang lebih aman, serta kerja sama dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat.


“Upaya ini bukan untuk mengekang tradisi masyarakat, melainkan memastikan bahwa kegembiraan Ramadhan tetap berlangsung tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sosial,” ujarnya.


Selain pemerintah, masyarakat juga memiliki peran penting dalam membangun norma sosial yang menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga ketenangan dan keselamatan bersama selama Ramadhan.


Muhlis menambahkan, peran keluarga bahkan menjadi kunci utama dalam menanamkan nilai tersebut kepada generasi muda. Orang tua diharapkan dapat memberikan teladan serta membimbing anak-anak memahami makna puasa sebagai latihan pengendalian diri dan kepedulian terhadap orang lain.


Dengan komunikasi yang terbuka dan penuh empati, anak-anak dapat belajar bahwa kebebasan berekspresi tetap harus disertai tanggung jawab sosial.


Muhlis menegaskan, fenomena petasan dan kembang api pada Ramadhan sejatinya mencerminkan dinamika hubungan antara tradisi budaya dan nilai spiritual. Tradisi sebagai bagian dari identitas sosial tetap penting dipelihara, namun perlu terus direfleksikan agar selaras dengan nilai moral yang lebih mendasar.


“Ketika pemerintah, masyarakat, dan keluarga mampu bersinergi, maka tradisi kegembiraan Ramadhan dapat tetap hidup tanpa harus mengorbankan ketenangan, keselamatan, dan kedalaman spiritual yang menjadi inti dari ibadah puasa,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar