Lensajatim.id, Surabaya– Pengusaha asal Situbondo, Jawa Timur, Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, menyiapkan langkah ekspansi besar dalam pengembangan industri tembakau dan rokok nasional melalui jaringan perusahaan yang berada di bawah naungan BARONG Group.
Ia menyampaikan bahwa tahap awal pembangunan ekosistem bisnis telah rampung, terutama dalam pembentukan serta legalitas sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor rokok, tembakau, dan distribusi.
“Persiapan tahap awal usaha sudah kami selesaikan, terutama dari sisi legalitas perusahaan. Selanjutnya kami mulai memasuki tahap ekspansi,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Minggu (15/3/2026).
Dalam struktur bisnis tersebut, Gus Lilur telah menyiapkan enam perusahaan induk di bidang rokok, yakni RBS, BARON, JOLENTARA, MADANTARA, BARONG, dan MASAKU. Dari enam perusahaan tersebut, lima telah memiliki legalitas lengkap, sementara satu perusahaan lainnya masih dalam proses penyelesaian administrasi.
Selain itu, Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI) ini juga membangun dua perusahaan induk yang berfokus pada pengelolaan tembakau, yaitu Nusantara Global Tobacco (NGO) dan BAKAU Indonesia. Untuk memperkuat jaringan logistik dan distribusi, ia juga mendirikan perusahaan Angkut Barang Seluruh Nusantara (ABANG SETARA).
Langkah berikutnya adalah memperluas infrastruktur industri dengan membangun gudang tembakau di tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah.
Di Jawa Timur, gudang tembakau direncanakan berdiri di sejumlah daerah sentra produksi, seperti Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, serta Banyuwangi.
Sementara di wilayah Nusa Tenggara Barat, gudang tembakau direncanakan dibangun di Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Mataram. Adapun di Jawa Tengah, lokasi yang disiapkan meliputi Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, dan Jepara.
Selain pembangunan gudang tembakau, rencana ekspansi tersebut juga mencakup pembangunan 19 pabrik rokok berskala menengah hingga besar di berbagai kabupaten di tiga provinsi tersebut. Sebanyak 17 pabrik akan berdiri di daerah yang memiliki gudang tembakau, sementara dua pabrik lainnya direncanakan berada di Sidoarjo dan Malang.
Gus Lilur menjelaskan bahwa konsep pengembangan industri ini tidak hanya bertumpu pada perusahaan besar, tetapi juga melibatkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia berencana membangun serta membina sekitar 2.000 perusahaan rokok UMKM di berbagai daerah.
Setiap unit usaha UMKM tersebut diperkirakan mempekerjakan sekitar 20 pekerja. Dengan skema tersebut, potensi penyerapan tenaga kerja diproyeksikan dapat mencapai sekitar 40.000 orang.
“Konsepnya adalah integrasi antara industri besar dengan usaha rakyat. UMKM akan menjadi bagian penting dalam rantai produksi melalui sistem manufacturing atau maklun,” jelas Gus Lilur, yang juga dikenal sebagai peraih penghargaan Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif versi Forkom Jurnalis Nahdliyin.
Produksi rokok yang dikembangkan nantinya akan memanfaatkan beragam jenis tembakau dari berbagai daerah di Indonesia, seperti tembakau Lombok, Madura, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Lumajang, hingga Temanggung.
Menurutnya, integrasi antara pabrik besar, gudang tembakau, dan jaringan UMKM diharapkan mampu memperkuat daya saing industri rokok nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tembakau.
Ia menegaskan bahwa pengembangan industri tersebut juga bertujuan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di daerah sentra tembakau.
“Harapannya, industri ini tidak hanya tumbuh sebagai bisnis, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi petani, pekerja, dan perekonomian daerah,” ujarnya.
Gagasan besar tersebut, lanjutnya, dirampungkan saat dirinya berada di Manila. Ia berharap rencana pengembangan industri tembakau nasional tersebut dapat berjalan lancar dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. (Had)


Komentar