![]() |
| Dokter berinisial Grand.(Dok/Istimewa). |
Menurut Grand, dana yang diberikan oleh Sholikul Mukmin dan istrinya Riska bukanlah investasi, melainkan modal usaha bersama untuk membuka bisnis apotek.
“Itu bukan investasi tapi modal usaha bersama, kerja bersama. Tapi kenapa kok jadi investasi. Kan jelas-jelas aku bilang kalau Likul juga bekerja, bukan malah lepas tangan,” ujar Grand saat dikonfirmasi, Senin (9/3/2026).
Grand juga menegaskan bahwa kerugian yang terjadi dalam usaha tersebut merupakan risiko bisnis, bukan tindakan yang disengaja. Ia berdalih bahwa dirinya dan pihak pemberi modal sama-sama baru belajar menjalankan usaha apotek.
“Yang jelas itu bukan investasi tapi kerugian modal usaha, yang dimana salah satu pemodal (Likul) tidak pernah datang ke apotek untuk melakukan kegiatan cek dan audit,” ucapnya.
“Sama-sama baru belajar bisnis apotek,” tambahnya.
Dalam keterangannya, Grand juga mengaku tidak terima dengan sejumlah pemberitaan sebelumnya terkait kasus tersebut. Meski demikian, media ini telah memberikan ruang hak jawab kepada yang bersangkutan.
“Baik kalau memang itu sesuai dengan konfirmasi, lebih baik kita selesaikan saja ya,” ujarnya.
“Kalau memang jatuhnya fitnah biar kita segera uruskan,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menimbulkan berbagai persepsi, yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai bentuk tekanan terhadap media.
Sementara itu, Sholikul Mukmin membantah pernyataan Grand yang menyebut dirinya tidak pernah melakukan audit terhadap usaha apotek tersebut. Ia mengaku tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan usaha maupun diberikan laporan keuangan.
“Mau mengaudit bagaimana, sementara saya tidak memegang data apa pun atas keuangan tersebut,” ujar Sholikul Mukmin.
Menurutnya, seluruh pengelolaan usaha apotek berada di tangan Grand sehingga dirinya tidak memiliki akses terhadap catatan keuangan maupun stok barang.
“Kalau memang dia mengaku karena rugi, harusnya dihitung. Kerugiannya berapa, modalnya berapa. Kalau dia merasa memiliki modal, modal dia berapa, kemudian kita hitung sama-sama sehingga ketemu sisanya berapa,” jelasnya.
Ia juga mempertanyakan sikap Grand yang dinilai tidak memberikan kejelasan terkait kondisi usaha tersebut.
“Tidak tiba-tiba menghilang dan tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Sholikul Mukmin menambahkan bahwa audit tidak mungkin dilakukan tanpa adanya laporan keuangan yang jelas dari pihak pengelola usaha.
“Dasarnya saya melakukan audit, saya kan harus pegang laporan keuangan, kemudian kita bisa cek dengan kondisi stok barang yang ada. Saya tidak dikasih laporan keuangan kok,” tandasnya.
Sebelumnya, Grand juga sempat menyatakan bahwa dana yang diterimanya sempat dikelola oleh seorang karyawan yang kemudian menghilang.
Saat ditanya alasan tidak melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian, ia mengaku saat itu tidak memahami persoalan hukum.
“Waktu itu kami juga tidak tahu masalah hukum,” ucap Grand.
Ia juga berdalih bahwa salah satu karyawan yang mengelola uang tersebut telah melarikan diri.
“Karyawan saya kabur dulu,” dalihnya.
Kasus dugaan penggelapan dana kerja sama usaha apotek ini kini terus menjadi sorotan, terutama terkait transparansi pengelolaan modal dan tanggung jawab para pihak yang terlibat. (Eko)


Komentar