|
Menu Close Menu

FISIP UNAIR Luncurkan Green Series, Wujud Nyata Kampus Berkelanjutan untuk Dukung SDGs

Rabu, 29 April 2026 | 11.00 WIB

FISIP UNAIR Luncurkan Green Series. (Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya– Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga resmi meluncurkan program inovatif bertajuk FISIP UNAIR Green Series sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus memperkuat peran kampus dalam isu keberlanjutan lingkungan.


Program ini dirancang sebagai agenda berkelanjutan yang menjadi ruang edukasi, kolaborasi, dan aksi nyata lingkungan bagi seluruh sivitas akademika. Kehadiran FISIP UNAIR Green Series menegaskan bahwa FISIP UNAIR tidak hanya berfokus pada bidang sosial dan politik, tetapi juga aktif berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan.


Kegiatan perdana program tersebut mengusung tema “Celebrating Earth Day through Creative Action” dan digelar pada Selasa (28/4/2026) di Ruang Adi Sukadana serta Taman FISIP UNAIR. Kegiatan kolaboratif antara FISIP UNAIR, BEM FISIP UNAIR, dan komunitas pelestari lingkungan ini diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan.


Dalam sambutan pembukaan, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FISIP UNAIR, A. Safril Mubah, menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik.


“Bulan ini kita memperingati Hari Bumi. Membuang sampah pada tempatnya merupakan bagian dari kontribusi kita merawat Bumi dan menjadikan planet yang kita tinggali semakin lestari, sehingga kita bisa merasakan kenyamanan hidup di dunia ini,” ujar Safril.


Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan yang aktif mengedukasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan demi masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.


Pada sesi utama, Muhammad Haidzar Islam, praktisi pengelolaan sampah dari Yayasan Bina Lingkungan, memaparkan fakta mengenai ancaman mikroplastik yang kini menjadi persoalan global.


Menurutnya, masyarakat Indonesia rata-rata telah mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik yang kini ditemukan dalam darah, otak, hingga air hujan. Mikroplastik tersebut dapat masuk ke tubuh melalui udara, cairan, maupun makanan tanpa disadari.


Haidzar menjelaskan bahwa kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena plastik mengandung ratusan senyawa kimia turunan minyak bumi yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia.


Sebagai solusi, ia memperkenalkan konsep circular economy atau ekonomi sirkular, yakni sistem pengelolaan sumber daya melalui penggunaan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali secara berkelanjutan.


“Pastinya kita harus preventif, kita bisa dari langkah-langkah kecil dengan mengurangi penggunaan plastik sehari-hari. Kalau untuk langkah represif, kita harus sering sosialisasi dengan cara yang menarik agar kegiatan mengurangi sampah bisa dikemas secara menyenangkan,” papar Haidzar.


Diskusi interaktif juga melibatkan peserta yang memberikan gagasan strategis. Salah satu peserta, Bayu, menilai persoalan sampah harus diselesaikan melalui pendekatan lintas sektor.

“Saya rasa masalah ini perlu diselesaikan lintas sektor. Kita bisa menggunakan pendidikan sebagai alat untuk mengedukasi tentang bahaya plastik, pun juga UMKM, karena mereka memiliki perspektif masing-masing,” ungkapnya.


Sebagai bentuk implementasi langsung, peserta turut dilibatkan dalam kegiatan daur ulang sampah botol plastik melalui pembuatan DIY resin keychain. Aktivitas kreatif ini menjadi simbol nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui langkah sederhana namun berdampak.


Melalui FISIP UNAIR Green Series, dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan FISIP UNAIR menunjukkan komitmen kuat untuk terus menghadirkan kontribusi positif dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan.


Program ini diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu melahirkan generasi akademisi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan bumi dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). (Nasywa/Blenda) 

Bagikan:

Komentar