![]() |
| Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Dini Rahmania. (Dok/Istimewa). |
Menurut anggota Komisi VIII DPR RI tersebut, makna emansipasi perempuan tidak hanya berhenti pada kesetaraan, tetapi juga menyangkut kesempatan yang luas bagi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi.
“Inti dari emansipasi itu sederhana, perempuan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang dan memberi manfaat,” ujar Dini, Selasa (21/4/2026).
Ia menegaskan bahwa Kartini merupakan sosok pembuka jalan bagi perempuan Indonesia. Berbagai capaian perempuan saat ini, mulai dari akses pendidikan hingga peran kepemimpinan, tidak lepas dari keberanian Kartini dalam memperjuangkan perubahan di masanya.
“Tugas kita sekarang bukan lagi membuka jalan seperti R.A. Kartini, tapi melanjutkan dan mengisi jalan itu dengan karya nyata,” tutur alumnus FISIP Universitas Airlangga tersebut.
Selain Kartini, Dini juga menyoroti sosok Malahayati sebagai simbol keberanian perempuan Indonesia. Jika Kartini dikenal melalui gagasan dan pemikirannya, Malahayati menunjukkan ketangguhan perempuan dalam aksi nyata, bahkan di garis depan perjuangan.
“Sosok Malahayati mengajarkan bahwa perempuan tidak hanya kuat secara hati, tapi juga kuat dalam tindakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dini menilai kepemimpinan perempuan memiliki kedekatan emosional dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini menjadi nilai tambah yang penting dalam pembangunan, khususnya dalam menghadirkan kebijakan yang inklusif dan responsif.
Sebagai Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Probolinggo, ia berharap momentum Hari Kartini dapat terus mendorong perempuan Indonesia untuk percaya diri, mandiri, dan aktif berkontribusi di berbagai bidang.
“Ini penting, karena kepemimpinan perempuan sering kali lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (Had)


Komentar