|
Menu Close Menu

Lia Istifhama Tekankan Edukasi Keselamatan Perlintasan Pasca Insiden Mobil Listrik Green SM di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 22.23 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Jakarta – Kecelakaan yang melibatkan mobil listrik Green SM di perlintasan rel kereta kawasan Bekasi menjadi perhatian serius berbagai pihak. Insiden tersebut tidak hanya menimbulkan gangguan pada perjalanan kereta api, tetapi juga membuka ruang evaluasi penting terkait keselamatan berkendara di perlintasan sebidang.


Peristiwa bermula ketika sebuah taksi listrik Green SM dilaporkan mengalami gangguan teknis dan berhenti di atas rel kereta. Kondisi tersebut kemudian memicu rangkaian gangguan perjalanan, hingga Kereta Argo Bromo Anggrek dilaporkan menabrak rangkaian KRL Commuter Line yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur akibat hambatan di jalur sebelumnya.


Rekaman video yang beredar luas di masyarakat memperlihatkan situasi dramatis saat kendaraan tidak dapat bergerak dari jalur rel sebelum akhirnya tertabrak kereta yang melintas. Kejadian ini pun memicu perhatian publik terhadap faktor teknis kendaraan sekaligus pentingnya pemahaman keselamatan bagi pengguna jalan.


Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut sekaligus belasungkawa kepada para korban yang terdampak.


“Pertama saya prihatin atas peristiwa tersebut, dan berbela sungkawa kepada para korban,” ujar Lia.


Menurutnya, keselamatan di area perlintasan kereta harus menjadi perhatian bersama, baik oleh pengendara maupun pihak terkait.


“Keselamatan di perlintasan kereta harus menjadi prioritas bersama. Pengendara perlu memahami potensi risiko, termasuk kondisi teknis kendaraan dan prosedur aman saat melintas,” tegasnya.


Lia menjelaskan, meski terdapat berbagai pandangan terkait kemungkinan faktor teknis tertentu seperti pengaruh medan magnet lokomotif, penyebab yang lebih umum biasanya berkaitan dengan kondisi kendaraan dan kesiapan pengemudi.


Beberapa faktor yang kerap memicu kendaraan bermasalah di rel antara lain penggunaan transmisi yang kurang tepat, kondisi mesin yang tidak optimal, kepanikan saat situasi darurat, hingga kendaraan tersangkut akibat struktur rel yang tidak rata.


Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat mengenai sistem pengamanan perlintasan, termasuk penutupan palang pintu lebih awal sebelum kereta terlihat.


Menurut Lia, langkah tersebut merupakan bagian dari prosedur keselamatan standar guna memberikan waktu bagi pengguna jalan untuk berhenti, menghindari kendaraan terjebak, dan menekan risiko kecelakaan fatal.


“Disiplin berlalu lintas di area perlintasan adalah bentuk perlindungan diri. Edukasi keselamatan harus terus diperkuat agar kejadian serupa dapat dicegah,” tambahnya.


Lia berharap insiden ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran publik mengenai pentingnya keselamatan di perlintasan kereta api. Dengan kesiapan teknis kendaraan, kewaspadaan pengemudi, serta kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, risiko kecelakaan di perlintasan dapat diminimalkan secara signifikan. (Red) 

Bagikan:

Komentar