![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama saat dalam acara podcast Hari Kartini di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.(Dok/Istimewa). |
Pesan tersebut disampaikan Lia saat menjadi narasumber podcast Hari Kartini di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Rabu (29/4), dengan tema Perempuan sebagai Penggerak Literasi Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Lia, negara besar adalah negara yang mampu mengelola pengetahuan. Karena itu, budaya membaca harus ditempatkan sebagai arus utama pembangunan sumber daya manusia. Tanpa literasi yang kuat, transformasi digital hanya akan melahirkan generasi yang cepat menerima informasi, tetapi lemah dalam menyaring, menganalisis, dan mengimplementasikan pengetahuan.
“Indonesia Emas 2045 harus dibangun di atas kecerdasan kolektif bangsa. Dan kecerdasan itu lahir dari budaya membaca, budaya berpikir, dan budaya belajar yang terus hidup di tengah masyarakat. Karena itu, literasi harus menjadi panglima,” tegas Lia.
Politisi perempuan yang dikenal aktif menyuarakan isu pendidikan dan pemberdayaan perempuan itu juga menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya ibu, sebagai pintu pertama literasi. Menurutnya, rumah harus kembali menjadi ruang tumbuhnya kebiasaan membaca, berdiskusi, dan membangun ikatan emosional yang sehat antara orang tua dan anak.
“Buku bukan sekadar bacaan. Buku adalah jendela dunia, alat membentuk karakter, sekaligus ruang lahirnya gagasan besar. Pena lebih tajam dari pedang karena pengetahuan mampu mengubah peradaban,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si menyebut literasi merupakan ujung tombak pembangunan manusia yang berkualitas. Menurutnya, transformasi digital yang berkembang pesat justru harus dimanfaatkan untuk memperluas akses membaca dan pengetahuan.
“Perpustakaan hari ini harus menjadi pusat kreativitas, ruang diskusi, dan tempat tumbuhnya inovasi. Teknologi digital adalah jembatan, tetapi budaya membaca tetap pondasi utama menuju bangsa yang maju,” katanya.
Ia berharap semangat literasi tidak berhenti pada seremoni Hari Kartini, melainkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah. Dengan demikian, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak sekadar menjadi slogan, tetapi benar-benar terwujud melalui generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter. (Red)


Komentar