![]() |
| Anggota Komisi X DPR RI, Lita Machfud Arfin.(Dok/Istimewa). |
Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I itu mengungkapkan, temuan di lapangan menunjukkan masih banyak siswa, guru, hingga orang tua yang belum memahami secara utuh tujuan dan mekanisme pelaksanaan TKA.
“Fakta di lapangan, banyak siswa merasa bingung bahkan cemas menghadapi TKA. Ini menandakan sosialisasi belum berjalan optimal,” tegasnya, Senin (20/4/2026).
Menurut Lita, salah satu penyebab utama kecemasan adalah kesalahpahaman terkait fungsi TKA. Ia menegaskan bahwa TKA bukan penentu kelulusan, melainkan instrumen untuk mengukur capaian akademik siswa sebagai dasar peningkatan kualitas pendidikan.
“TKA bukan untuk menentukan lulus atau tidak. Ini alat ukur kemampuan akademik siswa agar kualitas pendidikan bisa dipetakan dan ditingkatkan,” jelasnya.
Namun demikian, keterbatasan informasi yang diterima masyarakat membuat sebagian siswa menganggap TKA sebagai ujian penentu masa depan mereka, sehingga menambah tekanan psikologis.
Berdasarkan temuan Komisi X DPR RI, terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi TKA. Di antaranya sosialisasi yang belum merata, belum optimalnya kesiapan guru dalam menyesuaikan metode pembelajaran, serta kesenjangan fasilitas digital di sejumlah daerah.
“Kondisi ini perlu segera diatasi agar tidak menambah beban psikologis siswa,” ujarnya.
Sebagai langkah solusi, Lita mendorong pemerintah untuk memperkuat sosialisasi secara masif dan berkelanjutan, serta memperbanyak pelaksanaan tryout agar siswa memiliki gambaran lebih jelas mengenai bentuk ujian.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya dukungan sarana dan prasarana pendidikan guna memastikan pelaksanaan TKA berjalan adil dan inklusif.
“Pemerintah harus memastikan sosialisasi yang masif, tryout berkala, serta dukungan fasilitas pendidikan agar TKA menjadi instrumen evaluasi yang adil dan menenangkan bagi siswa,” tegasnya.
Lita memastikan pihaknya akan terus mengawal kebijakan tersebut agar implementasinya benar-benar berpihak pada peserta didik.
“Kebijakan pendidikan harus berpihak pada siswa. Tujuannya meningkatkan kualitas pendidikan tanpa menambah kecemasan anak-anak kita,” pungkasnya. (Had)


Komentar