|
Menu Close Menu

Muktamar Harus Murni dari Kepentingan Politik, Gus Lilur Sebut 6 Kiai Sangat Layak Pimpin PBNU

Rabu, 15 April 2026 | 11.35 WIB

Gus Lilur saat bertemu dengan Menag KH. Nasaruddin Umar.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Jakarta – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama pada 2026, dinamika internal organisasi kian menjadi perhatian. HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur menyuarakan pentingnya menjaga kemurnian muktamar dari pengaruh kepentingan politik praktis.


Menurutnya, muktamar kali ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum strategis yang akan menentukan arah masa depan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.


“NU ini didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan,” ujar Gus Lilur dalam wawancara, Rabu (15/4/2026).


Ia menilai, arah gerak organisasi perlu terus dijaga agar tetap berada di jalur keulamaan. Dalam pandangannya, muktamar harus menjadi ruang evaluasi terbuka sekaligus refleksi atas dinamika yang berkembang di tubuh NU.


Gus Lilur juga menyinggung sejumlah nama yang muncul dalam percaturan kepemimpinan, seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf. Ia menilai fenomena tersebut menunjukkan semakin tipisnya batas antara organisasi keagamaan dan ranah politik.


Selain itu, ia juga mendorong evaluasi terbuka terhadap kepemimpinan Yahya Cholil Staquf demi kebaikan organisasi ke depan.


“Ini bukan soal pribadi, tapi soal marwah. NU harus dijaga agar tidak menjadi panggung politisi. Kalau dibiarkan, lama-lama kepercayaan umat bisa terkikis,” tegasnya.


Lebih jauh, Gus Lilur mengingatkan pentingnya menjaga tradisi intelektual NU yang selama ini menjadi kekuatan utama, seperti pesantren dan forum bahtsul masail. Ia menyayangkan jika orientasi organisasi bergeser dari penguatan keilmuan menuju kepentingan kekuasaan.


Dalam konteks kepemimpinan, ia menilai NU memiliki banyak figur ulama yang kredibel dan layak memimpin. Beberapa nama yang disebut antara lain Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, serta Bahauddin Nursalim.


“Mereka jelas kapasitas keulamaannya, jelas intelektualitasnya. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” paparnya.


Ia menekankan bahwa muktamar harus menjadi momentum pemurnian organisasi, dengan menghadirkan kepemimpinan yang berangkat dari tradisi keilmuan dan integritas moral.


“Sudah saatnya kita bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. NU bukan batu loncatan politik. Kalau mau berpolitik, silakan di partai, jangan bawa-bawa NU,” ujarnya.


Gus Lilur juga menegaskan bahwa independensi NU merupakan kunci agar organisasi tetap menjadi penyejuk dan penuntun umat. Ia mengingatkan bahwa menjaga jarak dari kekuasaan adalah bagian dari menjaga marwah organisasi.


“NU harus berdiri di atas semua golongan, bukan menjadi bagian dari kepentingan tertentu. Itu prinsip yang harus kita jaga,” imbuhnya.


Ia pun mendorong agar muktamar mendatang kembali menitikberatkan pada penguatan ekosistem intelektual, mulai dari pesantren, bahtsul masail, hingga pengembangan pemikiran Islam yang relevan dengan tantangan zaman.


Menutup pernyataannya, Gus Lilur menyebut Muktamar ke-35 sebagai ujian penting bagi NU dalam menentukan arah ke depan.


“Ini bukan soal hari ini saja, ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan. Itu yang sedang dipertaruhkan,” pungkasnya. (Had) 

Bagikan:

Komentar