|
Menu Close Menu

PCNU Surabaya Dorong Sinergi Eksekutif-Legislatif untuk Atasi Persoalan Umat

Minggu, 12 April 2026 | 16.30 WIB

Kegiatan Halal Bihalal PCNU Kota Surabaya.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya– Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya mengajak pemerintah daerah dan legislatif memperkuat kolaborasi dalam menjawab berbagai persoalan umat. Ajakan ini disampaikan dalam momentum Halal Bihalal yang digelar di Kantor HBNO, Jalan Bubutan, Minggu (12/4), yang rutin dilaksanakan setiap bulan Syawal.


Kegiatan tersebut dihadiri Rais Syuriah PCNU Surabaya KH Dzul Hilmi, Ketua PCNU Surabaya H. Masduki Toha, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, serta Sekretaris Daerah Kota Surabaya Lilik Arijanto. Turut hadir pula perwakilan berbagai elemen, seperti Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Surabaya, tokoh agama Kristen dan Katolik, serta perwakilan partai politik yang memiliki kursi di DPRD Surabaya.


Dalam sambutannya, Ketua PCNU Surabaya H. Masduki Toha mengingatkan kembali pesan pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari. Ia mengutip ungkapan, “Siapa yang mau mengurus NU maka dia santriku,” sebagai penegasan nilai pengabdian dalam organisasi.


Masduki menjelaskan, NU sebagai organisasi besar memiliki kedekatan kuat dengan masyarakat karena struktur kepengurusannya menjangkau hingga tingkat kecamatan (MWC) dan ranting di kelurahan. Dengan basis tersebut, NU dinilai memahami berbagai persoalan umat secara langsung di akar rumput.


“Maka NU mampu memahami persoalan umat. Kami titipkan NU kepada panjenengan, karena yang memiliki sumber daya adalah panjenengan,” ujarnya, merujuk pada jajaran pemerintah kota dan DPRD Surabaya.


Ia menegaskan, PCNU berperan mendorong terbangunnya sinergi yang bersifat simbiosis mutualisme antara organisasi keagamaan dan pemangku kebijakan. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menghadapi berbagai persoalan sosial yang kian kompleks.


Masduki menyoroti sejumlah isu yang menjadi perhatian, di antaranya meningkatnya angka kriminalitas seperti pencurian kendaraan bermotor. “Masalah pencurian motor bukan seribu, tapi tiga ribu, dan ini terjadi di Surabaya,” ungkapnya.


Selain itu, ia juga menyinggung fenomena rokok elektrik yang mulai disusupi narkoba, yang dinilai berpotensi merusak generasi muda. “Jika ini terus terjadi, masa depan generasi muda kita bisa menjadi tidak jelas arah,” tegasnya.


Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyambut baik ajakan sinergi tersebut. Ia menegaskan komitmennya untuk membangun kota dengan nilai-nilai keagamaan Ahlusunnah Wal Jamaah.


“Karena saya ingin menggerakkan Surabaya ini dengan aqidah Islam Ahlusunnah Wal Jamaah,” ujarnya.


Eri juga memaparkan program pembinaan generasi muda melalui alokasi anggaran sebesar Rp5 juta per bulan di tingkat Rukun Warga (RW). Ia berharap program tersebut dapat didampingi oleh kader NU maupun organisasi kepemudaan seperti Ansor agar berjalan optimal.


Lebih jauh, Eri menekankan pentingnya pembangunan berbasis kebersamaan. Ia bahkan menyatakan ukuran keberhasilan kepemimpinannya bukan pada popularitas pribadi, melainkan pada kekuatan kolektif masyarakat.


“Saya akan merasa berhasil jika anak muda ditanya siapa wali kota, lalu menjawab PCNU. Kalau masih menjawab Eri Cahyadi, berarti pembangunan belum dilakukan secara kolektif,” ujarnya.


Suasana Halal Bihalal berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Kegiatan ini menjadi ruang mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat komitmen bersama antara ulama, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat dalam membangun Surabaya yang lebih harmonis dan berdaya. (Had) 

Bagikan:

Komentar