|
Menu Close Menu

Sudarsono Rahman Ingatkan Bahaya Intervensi dan Politik Transaksional Dalam Muktamar NU

Rabu, 22 April 2026 | 12.28 WIB

 

Sudarsono Rahman.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya – Rencana pelaksanaan Muktamar NU ke-35 tahun 2026 kian menjadi sorotan tajam publik. Dinamika yang mengiringi agenda besar Nahdlatul Ulama ini tak lagi sekadar wacana internal, melainkan telah berkembang menjadi perdebatan terbuka di ruang publik.


Sorotan terbaru datang dari kader senior NU, Sudarsono Rahman, yang angkat suara merespons kritik keras dua tokoh NU yang kini aktif di partai politik, yakni Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid.


Dalam forum Halal Bihalal Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) di Jakarta, keduanya menyoroti kinerja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang dinilai belum mampu mengonsolidasikan “gerbong besar” NU secara utuh. Pernyataan itu langsung memantik respons luas dari berbagai kalangan.


Sudarsono Rahman mengaku sependapat dengan kritik tersebut. Menurutnya, evaluasi terhadap organisasi sebesar NU bukan hanya wajar, tetapi juga mendesak untuk menjaga arah dan marwah organisasi ke depan.


“Saya setuju dengan pernyataan Cak Imin dan Kang Nusron bahwa perlu ada evaluasi terhadap kepemimpinan PBNU periode ini,” tegas pria yang akrab disapa Cak Darsono ini, Rabu (22/04/2026).


Namun, ia menggarisbawahi satu hal krusial: kritik tidak boleh menjelma menjadi pintu masuk intervensi. Sudarsono memperingatkan bahwa Muktamar sebagai forum tertinggi organisasi harus steril dari tekanan politik dan kepentingan praktis.


“Biarkan muktamirin menentukan pilihannya secara mandiri. Mereka adalah kiai dan tokoh NU di daerah masing-masing yang tahu persis siapa yang layak memimpin,” ujarnya.


Mantan Ketua PW IPNU Jawa Timur ini juga menyoroti potensi praktik politik transaksional yang berisiko mencederai integritas Muktamar. Menurutnya, segala bentuk upaya memengaruhi suara melalui iming-iming materi maupun tekanan kekuasaan harus ditolak tegas.


Tak berhenti di situ, Sudarsono bahkan mengingatkan agar aktor-aktor lama yang pernah terlibat dalam konflik internal NU tidak kembali bermain sebagai “tim sukses” dalam kontestasi mendatang.


“Harus ada jeda. Jangan sampai Muktamar kembali terseret kepentingan praktis yang justru merusak soliditas organisasi,” katanya tajam.


Pernyataan ini menambah panjang daftar kritik sekaligus peringatan menjelang Muktamar NU 2026. Di tengah besarnya ekspektasi publik, NU dituntut tidak hanya menghadirkan kepemimpinan yang kuat secara organisatoris, tetapi juga mampu menjaga persatuan di tengah dinamika internal yang semakin kompleks.


Dengan basis massa yang besar dan jaringan hingga akar rumput, masa depan NU sangat ditentukan oleh proses yang bersih, independen, dan berintegritas. Muktamar bukan sekadar ajang memilih pemimpin, tetapi juga ujian nyata bagi komitmen menjaga tradisi musyawarah dan kemandirian organisasi. (had) 

Bagikan:

Komentar