![]() |
| Moch Cholid Wardi (tengah), usia mengikuti ujian tertutup disertasi di UIN Sunan Ampel Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi pencapaian akademik personal, tetapi juga mencerminkan perkembangan strategis IBS PKMKK dalam mengintegrasikan tradisi pesantren dengan sistem keilmuan modern. Disertasi bertajuk “Konstruksi Praktik Pengobatan Tradisional Berbasis Kearifan Lokal ‘Koteka’ di Madura Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah” dinilai menghadirkan kontribusi penting dalam mempertemukan kearifan lokal, praktik kesehatan tradisional, serta perspektif keislaman yang kontekstual.
Direktur Utama IBS PKMKK, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, menegaskan bahwa tema yang diangkat menunjukkan keberanian intelektual dalam mengangkat tradisi lokal yang selama ini kerap berada di pinggiran wacana akademik.
“Disertasi ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan, tetapi dapat dibaca ulang secara ilmiah dan ditempatkan dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah yang lebih luas demi kemaslahatan,” ujarnya, Rabu (29/04/2026).
Ujian tertutup yang dihadiri tujuh penguji, termasuk akademisi dari Universitas Airlangga, menjadi ruang akademik penting dalam menguji kualitas ilmiah sekaligus memberikan legitimasi terhadap pengetahuan lokal dalam sistem pendidikan tinggi modern.
Bertambahnya doktor di lingkungan IBS PKMKK juga memperkuat posisi pesantren sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya melestarikan warisan keilmuan klasik, tetapi juga aktif memproduksi pengetahuan baru yang relevan dengan tantangan zaman.
Menurut Muhlis, gelar doktor merupakan bentuk modal kultural yang dapat memperkuat otoritas intelektual lembaga sekaligus membuka ruang pengembangan institusi berbasis riset dan refleksi kritis.
“Dengan meningkatnya kapasitas akademik pengelola, pesantren memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi pusat transformasi keilmuan yang adaptif, inovatif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi,” jelas Ketua Senat UIN Madura tersebut.
Sebagai Direktur Pengembangan Baca Kitab Kuning di IBS PKMKK, Moch Cholid Wardi kini memegang peran strategis sebagai akademisi sekaligus praktisi, yang diharapkan mampu menerjemahkan gagasan ilmiah ke dalam pengembangan pendidikan pesantren secara konkret.
Fenomena ini menandai perubahan orientasi pesantren di Indonesia, di mana legitimasi keilmuan tidak hanya bertumpu pada sanad tradisional, tetapi juga diperkuat melalui sistem akademik formal. Integrasi tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas kontribusi pesantren di tingkat nasional.
Dengan bertambahnya doktor baru, IBS PKMKK dinilai sedang memasuki fase baru sebagai institusi yang semakin kuat dalam membangun budaya akademik, mendorong riset kontekstual, dan memperkuat peran pesantren dalam menjawab dinamika sosial masyarakat Muslim Indonesia.
Transformasi ini menjadi bukti bahwa pesantren mampu menjadi ruang dialog produktif antara tradisi dan modernitas, sekaligus melahirkan pemikiran yang berpihak pada kemaslahatan umat. (Man)


Komentar