![]() |
| Kegiatan Apel di IBS PKMKK Pamekasan.(Dok/Istimewa). |
Apel santri tersebut dihadiri Kapolsek Larangan, AKP Suyanto, bersama AIPTU Agus Salim Romadhan dan BRIPTU Ferlian Qurrata A’yun.
Kehadiran jajaran kepolisian di lingkungan pesantren menjadi simbol sinergi antara lembaga pendidikan dan aparat negara dalam membangun generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Dalam amanatnya, AKP Suyanto menyampaikan sejumlah pesan moral dan edukatif kepada para santri. Ia mengingatkan pentingnya menyikapi perkembangan teknologi dan media sosial secara bijaksana.
Menurutnya, generasi muda saat ini hidup di ruang digital yang menghadirkan peluang besar, namun juga menyimpan berbagai ancaman.
“Manfaatkan teknologi secara bijaksana, saring dan verifikasi setiap informasi yang diterima agar tidak mudah terjebak hoaks dan informasi yang menyesatkan,” tegasnya di hadapan para santri.
Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya saling menghormati serta menjauhi segala bentuk perundungan, baik verbal, sosial, maupun digital.
Menurutnya, perundungan bukan sekadar candaan remaja, tetapi tindakan yang dapat melukai psikologis seseorang, merusak masa depan, dan menghilangkan nilai kemanusiaan.
Selain itu, Kapolsek Larangan mengingatkan para santri agar menjauhi obat-obatan terlarang dan berbagai perilaku destruktif yang dapat merusak masa depan generasi muda.
Ia menilai santri merupakan generasi harapan umat yang harus menjaga diri, akhlak, serta masa depan bangsa.
Pesan menyentuh juga disampaikan saat ia mengajak seluruh santri membanggakan orang tua dan guru melalui prestasi akademik maupun non-akademik.
“Buat orang tua dan guru tersenyum bangga dengan prestasi dan akhlak kalian. Jaga marwah lembaga, keluarga, dan guru. Semoga kalian menjadi generasi sukses yang mampu membahagiakan kedua orang tua dan para guru,” ungkapnya.
Pesan tersebut disambut penuh perhatian oleh para santri dan dewan guru. Dalam tradisi pendidikan pesantren, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan moral, spiritual, sosial, dan emosional peserta didik.
Sementara itu, Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan kontribusi Kapolsek Larangan beserta jajaran kepolisian dalam membantu proses pembentukan karakter santri.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup dibangun melalui pendekatan akademik formal semata, tetapi membutuhkan kolaborasi sosial yang melibatkan banyak elemen, termasuk aparat keamanan, tokoh masyarakat, keluarga, dan lembaga pendidikan.
“Kami menyampaikan apresiasi yang luar biasa kepada Bapak Kapolsek Larangan yang telah membantu kami dalam mempermudah proses pembentukan karakter santri IBS PKMKK. Terima kasih yang tiada terhingga. Semoga Allah membalas segala kebaikan ini dengan balasan yang lebih baik dan menjadikannya sebagai amal jariyah,” tuturnya.
Ia menegaskan, pendidikan pesantren pada hakikatnya merupakan ikhtiar panjang untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan moral, spiritualitas kuat, dan tanggung jawab sosial terhadap bangsa serta kemanusiaan.
Di tengah era digital yang penuh disrupsi nilai, kegiatan apel santri dinilai menjadi ruang edukasi sosial yang penting untuk menanamkan kesadaran kritis, etika bermedia, kedisiplinan, serta penguatan identitas moral generasi muda Islam.
Apel Santri IBS PKMKK pagi itu tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial, melainkan ruang refleksi kolektif tentang pentingnya menjaga marwah ilmu, kehormatan keluarga, dan nilai-nilai pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. (Man)


Komentar