|
Menu Close Menu

Menembus Lautan Manusia di Mina, Lia Istifhama Bagikan Cara Aman Saat Terpisah dari Rombongan Haji

Sabtu, 30 Mei 2026 | 09.01 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat lempar jumrah di Mina.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Mina– Mina pada puncak pelaksanaan ibadah haji 2026 bukan sekadar kawasan yang dipenuhi tenda-tenda putih. Jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul dalam satu titik, bergerak dalam arus manusia yang nyaris tak pernah berhenti menuju Jamarat untuk melaksanakan lempar jumrah.


Di tengah kepadatan itu, tidak sedikit jemaah yang harus melanjutkan perjalanan seorang diri. Mereka berjalan kaki, menembus kerumunan, membawa tekad dan doa di tengah kondisi yang serba terbatas.


Situasi tersebut juga dialami Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Saat mobilitas di Mina mengalami kepadatan ekstrem dan akses transportasi menjadi terbatas, ia memilih berjalan kaki menuju Jamarat.


Bagi perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu, perjalanan tersebut bukan hanya untuk menunaikan salah satu rangkaian ibadah haji. Ada amanah lain yang juga ingin ia penuhi, yakni menjaga komitmen bertemu dengan konstituen yang telah dijanjikannya.


Dengan langkah cepat, ia menyusuri jalur pejalan kaki yang dipadati jemaah dari berbagai penjuru dunia. Suara talbiyah menggema di sepanjang perjalanan, berpadu dengan teriknya cuaca dan kepadatan yang menguras tenaga.


Lebih dari 30 menit ia berjalan di tengah gelombang manusia yang terus bergerak menuju tujuan yang sama.


Meski demikian, Ning Lia mengaku justru menemukan ketenangan di balik situasi yang penuh tantangan tersebut.


“Di tengah padatnya Mina, kita justru belajar tentang keteguhan. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan menjaga amanah,” ujarnya.


Fenomena berjalan kaki di Mina memang menjadi salah satu dinamika yang banyak ditemui pada musim haji tahun ini. Tingginya jumlah jemaah, keterbatasan transportasi, serta pola pergerakan yang berubah membuat banyak orang harus beradaptasi dengan berjalan dalam jarak yang cukup jauh.


Namun, pengalaman yang dialami Ning Lia juga memperlihatkan sisi lain dari penyelenggaraan ibadah haji.


Di sepanjang jalur menuju Jamarat, petugas haji Indonesia tampak bersiaga membantu para jemaah. Dengan seragam khas yang mudah dikenali, mereka berjaga di sejumlah titik strategis untuk memberikan informasi, membantu jemaah yang kelelahan, hingga mengarahkan mereka yang terpisah dari rombongan.


Menurut Ning Lia, kehadiran para petugas memberikan rasa aman di tengah padatnya lautan manusia.


“Rasa aman itu nyata. Kita mungkin berjalan sendiri, tapi tidak pernah benar-benar sendiri,” katanya.


Ia menilai kondisi tersebut menjadi gambaran nyata sinergi berbagai pihak dalam penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, hingga petugas lintas sektor yang bekerja tanpa mengenal waktu.


Dari pengalaman itu, Ning Lia juga membagikan sejumlah pesan penting bagi para jemaah, terutama saat menghadapi situasi terpisah dari rombongan.


Menurutnya, komunikasi menjadi faktor utama dalam menjaga keselamatan selama berada di Tanah Suci.


Ia mengaku selalu memastikan komunikasi dengan keluarga maupun rombongan tetap terjaga, termasuk dengan memanfaatkan fitur berbagi lokasi secara langsung.


“Kita harus memastikan ada yang tahu posisi kita. Teknologi itu penting, tapi kesadaran untuk menggunakannya jauh lebih penting,” ujarnya.


Selain itu, ia mengingatkan agar jemaah tidak ragu meminta bantuan kepada petugas apabila menghadapi kesulitan.


Baginya, para petugas haji merupakan garda terdepan yang selalu siap membantu kapan pun diperlukan.


Pesan terakhir yang ia tekankan adalah menjaga ketenangan dalam situasi apa pun.


“Panik hanya akan memperburuk keadaan. Di Tanah Suci, kita diajarkan untuk percaya bahwa setiap langkah dijaga,” tuturnya.


Bagi Ning Lia, pengalaman menembus kepadatan Mina bukan sekadar perjalanan menuju lokasi lempar jumrah. Perjalanan itu menjadi pelajaran tentang kesabaran, tanggung jawab, dan kepercayaan di tengah ujian fisik yang berat.


Di antara jutaan manusia yang bergerak menuju tujuan yang sama, ia merasakan bahwa ibadah tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga tentang menjaga amanah, menumbuhkan kepedulian, dan menguatkan keteguhan hati.


“Di sinilah kita belajar, bahwa ibadah bukan hanya soal ritual. Tapi tentang keberanian, keikhlasan, dan kepedulian pada sesama,” pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar