|
Menu Close Menu

Jamu Tolak Angin Untuk Mahasiswa dan Aktivis (JAMAS)

Sabtu, 13 Juni 2026 | 08.55 WIB

 



Oleh : Firman Syah Ali


Lensajatim.id, Opini- Saat semua orang heboh mengirim video demonstrasi mahasiswa di berbagai grup WA, saya memilih diam menonton, menahan komentar dulu. Judul videonya wow banget, ada kalimat "Reformasi Jilid II", ada kalimat "Revolusi sampai Metong", dan ada kalimat "Turunkan Harga-harga, atau Kau yang Turun". Ada netizen yang komen "semoga fenomena yang wow ini tidak berakhir wew".


Saya termasuk orang yang sudah lama memendam kecewa kepada adik-adik mahasiswa dan aktivis, karena sudah lama mereka timbul tenggelam dalam gerakan memperjuangkan idealisme. Kadang timbul, kemudian tenggelam secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bahasa halusnya mudah masuk angin.


Kekecewaan ini saya tuangkan berkali-kali dalam berbagai catatan di media maupun dalam postingan media sosial (medsos). Bukan hanya dalam pemerintahan ini, tapi juga dalam pemerintahan-pemerintahan era reformasi sebelum yang ini, baik pusat maupun daerah.


Namun curhat saya di  medsos dan berbagai media belum mampu jadi jamu tolak angin untuk adik-adik, mungkin karena ketokohan saya tidak terlalu ikonik, atau kalimat saya kurang menyentuh, atau jabatan saya kurang strategis, atau apalah, yang jelas sebagai senior aktivis mahasiswa saya merindukan kembali masa-masa keperkasaan kaum aktivis secara intelektual dan moral, yang integritasnya sebagai aktivis betul-betul menggetarkan kaki langit peradaban. 


JAMU TOLAK ANGIN UNTUK AKTIVIS MAHASISWA


Semoga tulisan saya di bawah ini mampu menjadi jamu tolak angin untuk mahasiwa dan aktivis, baik dalam isu nasional maupun isu lokal.


​Di kepalan tangan kalian, denyut nadi sejarah bangsa ini berdetak. Bangsa yang pernah besar. Bangsa yang pernah membangun Sriwijaya. Bangsa yang pernah membangun Majapahit. Bangsa yang pernah membangun Imperium maritim Gowa Tallo.


Mahasiswa bukanlah sekadar pergi kuliah atau mengumpulkan nilai hasil ujian, namun memperjuangkan nilai. 


Ketika idealismemu harus menempuh jalan terjal, ingatlah bahwa sejarah tidak pernah dipersembahkan kepada mereka yang mudah goyah.


Sejarah dipersembahkan kepada mereka yang bertahan tegak di tengah badai yang paling kelam sekalipun.


​Dalam menempuh jalan juang, rintangan paling berbahaya bukanlah pagar kawat berduri, bukan gas air mata, bukan derap sepatu aparat, melainkan "angin" berupa kooptasi, pengkondisian dengan materi, yang berkelindan dengan keraguan, kelelahan, dan apatisme yang perlahan menggerogoti nyali.


Kadang kita tidak takut mati, tapi takut lapar. Kadang kita tidak takut mati, tapi takut untuk menolak pengkondisian berupa uang, atau berupa posisi, atau berupa privilese, atau berupa proyek, atau berupa ancaman akademik, atau berupa ancaman kriminalisasi.


Maka, jadilah sosok yang pantang kendor dan pantang masuk angin. Sebab, "masuk angin" dalam perjuangan adalah saat di mana idealismemu mulai digerogoti oleh rasa malas dan kompromi.


Perjuangan tak sekedar butuh power, tapi juga butuh endurance.


Ketahanan api juang adalah fondasi bagi pikiran yang merdeka. Jiwa yang kuat dan berintegritas adalah senjata untuk terus mengawal kebijakan dan menyuarakan kebenaran. Jangan biarkan amplop, eh angin, membuat kalian meriang. Sebaliknya, jadilah badai yang meluluhlantakkan musuh-musuh keadilan.


​Teruslah bergerak, teruslah berteriak, karena pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya soal seberapa lantang kalian berteriak di jalanan, tapi seberapa konsisten kalian berdiri tegak tanpa pernah menyerah pada kooptasi dan donasi.


Langkah kalian hari ini adalah warisan bagi peradaban esok hari. Langkah kalian hari ini akan terus dikenang dari generasi ke generasi, hingga ke generasi yang saat ini belum lahir ke muka bumi.


Panjang Umur Perjuangan


*) Penulis adalah Aktivis '98

Bagikan:

Komentar