![]() |
| Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya, Anas Karno saat melayat ke rumah duka almarhum Thomas di kawasan Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Pelajar kelas XII SMA itu meninggal dunia setelah mengalami luka berat akibat dugaan penganiayaan oleh sekelompok remaja. Kepergiannya menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang hingga kini masih sulit menerima kenyataan pahit tersebut.
Kedatangan Anas Karno disambut isak tangis keluarga. Di hadapannya, mereka kembali menceritakan detik-detik terakhir sebelum Thomas ditemukan dalam kondisi kritis hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Tante korban mengungkapkan, Thomas berpamitan keluar rumah pada Sabtu malam (30/5/2026). Saat itu, ia mengaku hendak membeli paket data internet sekaligus mencari makan.
"Bilangnya cuma pamit cari makan sebentar. Kalau saya tahu akan terjadi seperti ini, pasti saya cegah atau saya antar sendiri," ujarnya sambil menangis.
Tak lama kemudian, keluarga menerima kabar bahwa Thomas ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri dan telah dilarikan ke rumah sakit.
Thomas sempat menjalani perawatan sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Namun kondisinya terus memburuk akibat luka serius yang dideritanya.
"Operasinya gagal karena otaknya bengkak. Kata dokter banyak pukulan benda tumpul yang menyebabkan kondisinya semakin parah," lanjutnya.
Dengan suara bergetar, keluarga memohon agar aparat penegak hukum mengusut kasus tersebut hingga tuntas.
"Saya minta keadilan untuk Thomas. Saya mohon kasus ini diusut sampai tuntas. Anak yang saya asuh dari kecil harus pergi dengan keadaan seperti ini," tuturnya.
Bagi keluarga, Thomas bukan sekadar korban. Ia dikenal sebagai pribadi pendiam, baik, dan memiliki masa depan yang menjanjikan. Thomas merupakan penerima beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) serta bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus SMA.
"Dia anak yang baik, tidak pernah membuat masalah. Bahkan sudah punya rencana kuliah. Kami tidak pernah mendengar dia punya musuh," tambahnya.
Mendengar langsung kesaksian tersebut, Anas Karno mengaku prihatin. Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu meminta aparat kepolisian mengusut tuntas perkara tersebut agar keluarga memperoleh kepastian hukum dan rasa keadilan.
"Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ada seorang remaja yang memiliki masa depan, penerima beasiswa, yang bercita-cita melanjutkan pendidikan, tetapi harus kehilangan nyawa secara tragis. Negara harus hadir memberikan keadilan bagi keluarga," tegasnya.
Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPC PDIP itu juga menyoroti rentetan kasus kriminal yang belakangan terjadi di Surabaya. Mulai dari kasus penganiayaan terhadap pelajar hingga meninggal dunia, hingga aksi penjambretan yang menyebabkan seorang aparatur sipil negara meninggal setelah menjalani perawatan kritis di rumah sakit.
Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan.
"Jangan sampai warga Surabaya merasa takut ketika keluar rumah. Keamanan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Kejadian yang merenggut nyawa seperti ini tidak boleh dianggap biasa," ujarnya.
Sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya, Anas mendorong penguatan sinergi antara kepolisian, Satpol PP, perangkat wilayah, dan Command Center 112 untuk mempercepat upaya pencegahan maupun penanganan tindak kriminal.
Ia meminta kepolisian meningkatkan patroli dalam pemberantasan kejahatan. Sementara Pemerintah Kota Surabaya diharapkan mengoptimalkan fungsi CCTV, patroli Satpol PP, serta layanan darurat Command 112 agar respons terhadap laporan masyarakat semakin cepat.
Anas juga mengapresiasi langkah cepat aparat kepolisian yang telah mengamankan sejumlah tersangka dalam kasus tersebut.
"Tindakan cepat ini setidaknya bisa memberikan rasa tenang terhadap keluarga korban yang menuntut keadilan," terangnya.
Dalam kasus ini, Polrestabes Surabaya telah menetapkan empat remaja berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU sebagai tersangka dugaan penganiayaan.
Anas Karno turut menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban sekaligus memberikan santunan sebagai bentuk empati.
Kasus kematian Thomas kini menjadi perhatian publik. Di balik duka yang belum reda, keluarga masih menanti jawaban atas harapan yang terus mereka suarakan: keadilan bagi Thomas, remaja berprestasi yang cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan harus terhenti secara tragis.
Aparat kepolisian saat ini masih terus mendalami perkara tersebut guna mengungkap kasus hingga tuntas. (Red)


Komentar