|
Menu Close Menu

24 Tahun Bertahan, Masuk Generasi ke-3, Nasi Serpang Khas Bangkalan Madura Tetap Diburu Pecinta Kuliner

Senin, 24 Agustus 2026 | 22.19 WIB

Linda menyiapkan nasi serpang untuk pembeli. (Dok/Rif) 
Lensajatim.id, Bangkalan– Nasi serpang merupakan makanan khas Bangkalan Madura yang berasal dari Dusun Serpang, Desa Sabiyan, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Kuliner ini masih  incaran dan banyak diminati hingga kini. Linda, 45, warga Jalan Raya Sabiyan, menjadi generasi ketiga yang meneruskan usaha nasi serpang keluarganya yang telah bertahan selama 24 tahun.


Usaha tersebut diwariskan dari nenek mertua Linda kepada mertuanya, kemudian diteruskan kepada Linda. Ia mengaku belajar membuat dan berjualan nasi serpang dari mertuanya.


“Saya diajari sama mertua. Ini memang turun-temurun, dari nenek mertua, ke mertua, kemudian turun ke menantu,” ujar Linda, Senin (24/08/2026).


Linda berjualan di Jalan Ki Lemah Duwur, Sanggan, Bangkalan, sejak pukul 05.00 hingga 11.00 WIB. Dalam sehari, ia dapat menjual sekitar 200 hingga 300 porsi dengan harga Rp17 ribu per porsi.


Selain melayani pembeli langsung, Linda juga menerima pesanan nasi serpang. Pesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp dengan pemesanan minimal satu hari sebelumnya. Ia bahkan pernah menerima pesanan lebih dari 1.000 porsi. Harga pesanan sama dengan harga jual langsung, dengan tambahan bonus. Untuk pesanan dalam jumlah banyak, nasi serpang dapat diantar kepada pelanggan.


Satu porsi nasi serpang dilengkapi berbagai lauk, seperti cakalan, kerang, udang, telur asin, mi, dan daging kering. Saat musim jangkang, menu tersebut juga dilengkapi jangkang yang menjadi salah satu ciri khas nasi serpang.


“Kalau musim jangkang, itu biasanya tidak ada di nasi yang lain. Daging keringnya juga beda, kalau yang lain cenderung manis, kalau daging di nasi serpang ini gurih,” jelasnya.


Kini, pelanggan nasi serpang Linda tidak hanya berasal dari Bangkalan. Ia menyebut pembeli datang dari berbagai daerah, bahkan hingga Australia dan Belanda. Sementara itu, produk keripiknya telah dibawa hingga Mekkah dan Malaysia.


Dibandingkan awal berjualan, Linda mengatakan pembeli kini semakin ramai. Namun, kondisi tersebut terkadang membuatnya kewalahan memenuhi permintaan.


Setiap hari, Linda menempuh perjalanan sekitar dua kilometer dari rumah menuju tempat berjualan. Ia biasanya diantar menggunakan mobil dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.


Bagi Linda, usaha nasi serpang menjadi sumber penghasilan utama keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, hingga menabung.


“Besar sekali membantu perekonomian keluarga. Untuk makan, pendidikan anak, bahkan untuk menabung juga,” tuturnya.


Setelah meneruskan usaha keluarga selama bertahun-tahun, Linda berharap nasi serpang semakin berkembang dan dikenal lebih luas, termasuk oleh pelanggan dari berbagai negara.


“Harapannya lebih maju dan lebih banyak pelanggan dari berbagai negara,” pungkasnya. (rif)

Bagikan:

Komentar