|
Menu Close Menu

Mahasiswa UTM Bangun Usaha Les Privat, Kini Berdayakan 13 Guru Tutor

Rabu, 19 Agustus 2026 | 14.54 WIB


Rika Wulandari saat mengajar les privat.(Dok/Rika) 
Lensajatim.id, Bangkalan– Kesibukan kuliah tidak menghalangi Rika Wulandari, mahasiswa semester 7 Universitas Trunojoyo Madura (UTM), untuk membangun usaha les privat. Dari pengalaman mengajar, perempuan berusia 21 tahun itu kini mengembangkan Intelligent Growth Private (IGP) yang telah memiliki 22 siswa dan menggandeng 13 guru tutor.

Rika mulai mengajar les privat sejak semester 3 setelah sebelumnya sempat bekerja di kafe. Pengalaman tersebut menjadi bekal baginya untuk membangun usaha les privat sendiri pada akhir 2025.


Ide itu muncul setelah semakin banyak warga di sekitar tempat tinggal Rika di Jl. Jokotole Gang 3, Bangkalan, yang mempercayakan pendidikan anak mereka kepadanya. Kini, layanan IGP menjangkau wilayah Bangkalan, Telang, hingga Kamal. Untuk wilayah Bangkalan bagian utara, jangkauannya hingga Bancaran.


“Awal buka les privat itu karena banyak yang minat, terutama warga sekitar. Mereka percaya karena katanya saya telaten dan bisa membuat anak-anak paham,” ujar Rika, Rabu (19/08/2026).


Seiring bertambahnya siswa, Rika mulai mengajak guru tutor lain untuk bergabung. Kini, IGP memiliki 13 guru tutor yang membantu menangani siswa. Promosi melalui Instagram dan TikTok juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan layanan les privat kepada masyarakat.


Dalam sistem kerja samanya, Rika tidak memotong honor guru tutor. Keuntungan diperoleh dari selisih biaya yang dibayarkan orang tua siswa.


“Misalnya biaya mengajarnya Rp160 ribu, saya tambahkan menjadi Rp180 ribu. Rp160 ribu tetap menjadi hak guru tutor, sedangkan Rp20 ribu menjadi bagian saya,” jelasnya.


Bagi Rika, IGP bukan sekadar usaha untuk mendapatkan penghasilan. Ia ingin membuka kesempatan bagi mahasiswa lain untuk bekerja sambil kuliah dengan waktu yang dapat disesuaikan dengan jadwal perkuliahan.


“Senang karena sudah bisa membantu mereka yang memang niat mau bekerja sambil kuliah. Mereka juga bisa mendapatkan penghasilan sendiri,” katanya.


Menjalankan usaha sekaligus kuliah membuat Rika harus pandai membagi waktu. Namun, perjuangan tersebut terbayar ketika melihat perkembangan siswanya, termasuk anak yang awalnya belum bisa membaca dan menulis hingga akhirnya mengalami kemajuan.


“Awalnya anak belum bisa membaca sama sekali, kemudian setelah diajar akhirnya bisa. Pasti ada rasa bangga,” tuturnya.


Kini, Rika berharap IGP terus berkembang dan semakin dipercaya masyarakat. Ia juga ingin lebih banyak mahasiswa bergabung sebagai tutor sehingga usahanya dapat menjadi wadah untuk mendapatkan pengalaman sekaligus penghasilan.


Bagi Rika, keberhasilan usaha bukan hanya tentang bertambahnya jumlah siswa, tetapi juga tentang bagaimana usaha yang dibangunnya sejak bangku kuliah dapat memberikan manfaat bagi orang lain. (rif) 

Bagikan:

Komentar