|
Menu Close Menu

Dari Wartawan hingga Pengusaha Sawit, Jejak Multidimensi Hairul Anam

Rabu, 19 Agustus 2026 | 13.43 WIB

Hairul Anam.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Sumenep– Hairul Anam dikenal sebagai sosok yang menekuni berbagai bidang sekaligus. Lahir di Pamekasan pada 4 Mei 1989, Anam menjalani perjalanan panjang sebagai wartawan, akademisi, pegiat literasi, organisator pers, hingga pengusaha.


Pendidikan dasar hingga menengah atas ditempuhnya di Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam Miftahul Ulum (Yaspimu), Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Pamekasan.


Perjalanan intelektualnya berlanjut saat Anam memutuskan kuliah sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, sepanjang 2007 hingga 2012.


Berawal dari Pesantren dan Dunia Riset


Masa nyantri di Annuqayah menjadi fondasi penting bagi Anam dalam mengasah kemampuan menulis, baik fiksi maupun karya ilmiah.


Produktivitasnya di bidang kepenulisan dibuktikan dengan prestasi sebagai juara Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional. Dalam kompetisi tersebut, dia bersaing dengan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi ternama, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Airlangga (Unair).


Selama kuliah, Anam juga aktif dalam dunia riset dan pers kampus. Dia pernah menjadi kontributor Harian Surya, mengelola Majalah Fajar, serta menginisiasi pendirian Majalah Hijrah.


Menjadi Wartawan hingga Bertugas ke Makkah


Setelah menyelesaikan masa studinya di Annuqayah, Anam resmi bergabung dengan Harian Pagi Kabar Madura pada 10 Juni 2012.


Di tengah kesibukannya menjalani aktivitas jurnalistik, dia tetap melanjutkan pendidikan di Pascasarjana UIN Madura.


Meski memiliki latar belakang disiplin Pendidikan Agama Islam, Anam secara tekun memperluas wawasan melalui bacaan dan kajian di berbagai bidang, mulai filsafat, sejarah, sastra, hingga metafisika.


Karier jurnalistiknya kemudian berkembang pesat. Pada 2013, Anam terpilih mewakili wartawan se-Indonesia untuk meliput proyek perluasan Masjidil Haram di Makkah.


Saat berada di Madinah, dia juga aktif menyajikan liputan mendalam mengenai perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).


Menulis Buku hingga Mengajar


Aktivitas Anam tidak berhenti di dunia jurnalistik. Dia juga menunjukkan dedikasi di bidang literasi dan akademis.


Dalam rentang 2013 hingga 2020, Anam menerbitkan empat buku yang dibiayai oleh Kementerian Agama RI.


Karya terbarunya dirilis pada 2026 dengan judul Di Balik Layar Demokrasi, yang ditulis bersama Miftahur Rozaq. 


Kiprahnya di dunia pendidikan dan literasi juga terlihat dari sejumlah posisi dan penugasan yang pernah dijalaninya.


Pada 2020, Anam terpilih sebagai Dosen Praktisi Kemendikbudristek RI dan ditugaskan mengajar di Universitas Madura.


Setahun kemudian, pada 2021, dia menjadi Pembicara Gerakan Literasi Digital yang dikontrak oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI.


Sejak 2026, Anam menjadi Dosen FIKOM UNIBA Madura. Dia mengampu mata kuliah Creative Writing dan Mass Communication.


Memimpin Organisasi Pers dan Menjadi Asesor UKW


Di bidang keorganisasian dan kompetensi kewartawanan, Anam juga terus mengembangkan kiprahnya.


Pada 2025, dia terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pamekasan sekaligus menjadi Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur.


Pada tahun yang sama, Anam lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Tingkat Utama Dewan Pers.


Kemudian pada 2026, dia lulus sebagai Asesor UKW Dewan Pers pertama dan satu-satunya dari Pulau Madura.


Merambah Bisnis dan Industri Media


Di luar aktivitas akademik dan kewartawanan, Anam juga mengembangkan diri di sektor bisnis dan industri media.


Di bidang kewirausahaan, dia bergerak dalam bisnis kelapa sawit di Kalimantan, industri rokok, serta Tok Patok.


Sementara di industri media massa, Anam memegang sejumlah posisi kepemimpinan penting, yakni:

Direktur Utama Kabar Madura;

Direktur Utama K-TV;

Komisaris Utama Media Jatim;

Founder kabarjatim.co;

Founder kabaranyar.com.


Berbagai aktivitas tersebut memperlihatkan perjalanan Anam yang tidak hanya berkutat pada satu bidang. Dari ruang redaksi, ruang kelas, dunia literasi dan organisasi pers, hingga sektor bisnis, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang terus dia kembangkan.


Bagi Anam, berbagai jalur yang ditempuh tersebut memiliki satu prinsip yang terus dipegang.


“Satu-satunya Kegagalan di Dunia Ini Adalah Kegagalan untuk Mencoba!” (red) 

Bagikan:

Komentar