|
Menu Close Menu

Getaran Nasionalisme dalam Haul Khotib Parangghan Sumenep

Rabu, 19 Agustus 2026 | 00.29 WIB


Oleh: Firman Syah Ali


Lensajatim.id, Opini- Kemarin, hari Minggu tanggal 16 Agustus 2026, saya menghadiri undangan Haul Khotib Parangghan Bin Pangeran Katandur Sumenep. Sebuah "Haul Sela" yang biasa dilaksanakan disela-sela Haul Akbar. 


Acara sakral dan khidmat tersebut dihadiri oleh Kasepuhan RKH Kholil Muhammad Gunungsari Proppo, penceramah RKH Abdul Qodir Muhammad, Wabup Sumenep RKH Imam Hasyim, Pegiat Nasab Bhuju' Nusantara RKH Abdul Hamid Roqib Suryodirjo, tokoh Media RB Arya Rusli, aktivis Nasab Walisongo RKH Ja'far Shodiq Fauzi Batuampar dan banyak tokoh lainnya dari lokal Madura saja, karena memang bukan Haul Akbar.


Ada yang sangat menyentuh hati saat sambutan tokoh Kasepuhan Dzurriyah Walisongo di Madura, RKH Kholil Muhammad Gunungsari. Beliau merasa terharu dengan pelaksanaan kegiatan Haul Parangghan. 


"Sudah ratusan tahun Bhuju' kita ini dilupakan oleh keturunannya, makamnya sepi tak terawat, tidak ada yang mengingatnya. Tapi kini, kita semua kompak, kita semua sadar bahwa bhuju' kita tidak boleh dilupakan, tidak boleh ditinggalkan, harus rutin kita peringati Haulnya dengan hati ikhlas dan penuh suka cinta" ucap beliau.


Tak terasa air mata saya menetes. Nuan bayangkan, ratusan tahun seorang waliyullah pejuang islam di Madura dilupakan oleh anak cucunya. Tidak diperingati haulnya. Tidak dirawat maqbarahnya.


Dan itu tidak hanya menimpa Bhuju' Khotib Parangghan. Itu menimpa hampir seluruh bhuju' (leluhur suci) di Madura maupun Jawa.


Ironisnya terkadang dzurriyah bhuju' Madura lebih peduli pada haul "bhuju' orang lain" daripada bhuju'nya sendiri di Madura. 


Disinilah jiwa nasionalisme saya terlecut, saya bertekad ingin menginisiasi dan menghadiri haul bhuju'-bhuju' saya di Madura. Haul sekecil apapun. Karena ini tidak hanya masalah birrul walidain, ngalap barokah, maupun transfer energi kebaikan, tapi ini masalah nasionalisme.


Bhuju'-bhuju' asli nusantara tidak boleh dilupakan. Mereka adalah bhuju'-bhuju' kita sendiri. Dari dalam tubuh mereka mengalir darah para ulama besar dan negarawan besar Indonesia. 


Namun Alhamdulillah ada salah satu hadirin Haul yang bercerita ke saya bahwa pada peringatan Haul Akbar Parangggan beberapa waktu lalu, hadir ribuan kyai dari Jawa Madura, bahkan keluarga Pesantren Genggong hadir lengkap. Terhapuslah air mata saya seketika itu juga.


Semoga Bhuju' asli Madura, Khotib Parangghan Bin Pangeran Katandur Bin Panembahan Pakaos Bin Sunan Kudus selalu di dalam rahmat Allah SWT, bahagia dan mulia disisiNya.


*) Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU

Bagikan:

Komentar