![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama saat hadir dalam acara Bedah Buku " Diaspora Madura" di Bangkalan. (Dok/Istimewa) |
Hal itu mengemuka dalam bedah buku Diaspora Madura karya Dr. Abdur Rozaki yang digelar komunitas literasi dan pegiat budaya Madura di Bangkalan, Sabtu (23/8/2026). Kegiatan tersebut didukung Harian Bangsa dan Intensif Books.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, turut hadir dalam kegiatan yang menghadirkan sejumlah akademisi, ulama, budayawan, tokoh masyarakat, dan pegiat literasi tersebut.
Dalam pandangannya, Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, menilai buku Diaspora Madura tidak sekadar mengisahkan perpindahan masyarakat Madura ke berbagai daerah. Buku itu juga merekam kemampuan masyarakat Madura mempertahankan identitas sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Kalau kita bicara resiliensi, strategi dan transformasi pascakonflik etnik, saya memahami bahwa Madura tidak akan pernah padam,” kata Ning Lia dalam forum tersebut.
Menurut dia, karakter masyarakat Madura memiliki sejumlah kekuatan yang menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan zaman. Salah satunya adalah etos kerja keras yang selama ini melekat dalam kehidupan masyarakat Madura.
Ning Lia juga menyoroti kuatnya rasa memiliki atau sense of belonging masyarakat Madura. Ikatan tersebut, menurutnya, tidak semata-mata terbentuk karena hubungan darah, tetapi juga karena kesamaan identitas dan kultur.
“Walaupun kita berbeda orang tua, berbeda ayah dan ibu, tetapi ketika sama-sama Madura, ikatannya kuat. Ada sense of belonging yang luar biasa,” ujarnya.
Kekuatan tersebut kemudian berkembang menjadi modal sosial yang dapat menopang keberdayaan masyarakat, termasuk dalam bidang ekonomi.
Ning Lia mencontohkan berkembangnya warung Madura di berbagai daerah sebagai salah satu bentuk strategi masyarakat Madura dalam membangun kemandirian ekonomi.
“Kalau bicara strategi out of the box, Madura punya. Warung Madura tumbuh di mana-mana dan menjadi contoh bagaimana modal sosial bisa berkembang menjadi kekuatan ekonomi,” tuturnya.
Buku karya Abdur Rozaki tersebut berpijak pada tiga narasi utama, yakni resiliensi, strategi, dan transformasi.
Resiliensi terlihat dari kemampuan diaspora Madura bangkit dari pengalaman traumatis akibat konflik sekaligus beradaptasi secara konstruktif dengan lingkungan sosial baru.
Sementara strategi diwujudkan melalui penguatan organisasi, perluasan akses pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penolakan terhadap stereotip etnik, serta penciptaan ruang publik yang lebih inklusif, moderat, dan toleran.
Adapun transformasi ditandai dengan munculnya peran-peran baru diaspora Madura. Mereka tidak hanya berkembang dalam tradisi perdagangan, tetapi juga memasuki ruang politik formal sebagai anggota legislatif maupun eksekutif.
Dalam konteks Kalimantan Barat, buku tersebut mengulas bagaimana diaspora Madura memperkuat organisasi seperti Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM) untuk mengurangi kerentanan terhadap politisasi etnik.
Upaya tersebut juga dibarengi dengan peningkatan pendidikan dan pendirian lembaga pendidikan, termasuk pesantren yang inklusif.
IKBM bersama tokoh Dayak dan Melayu juga membentuk Perkumpulan Merah Putih (PMP), yang berperan mencegah konflik kriminal berkembang menjadi konflik antaretnik.
Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni masyarakat multikultural di Kalimantan Barat.
Ning Lia menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Madura mampu mengubah pengalaman masa lalu menjadi energi untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
“Orang Madura di perantauan itu luar biasa. Mereka mampu beradaptasi, membangun jejaring, dan tetap menjaga akar budayanya. Ini yang perlu kita luruskan agar stigma negatif tidak terus melekat,” ungkapnya.
Ia juga mengaitkan kekuatan diaspora Madura dengan pentingnya pendidikan dan agama sebagai fondasi dalam membangun ketahanan kebangsaan.
Menurut Ning Lia, penguatan ekonomi masyarakat Madura perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan, terutama pendidikan berbasis pesantren.
“Semoga masyarakat Madura yang sekarang kuat dari sisi ekonomi juga semakin kuat dari sisi pendidikan, terutama berbasis pesantren. Karena penguatan fondasi kebangsaan itu salah satunya melalui pendidikan dan agama,” katanya.
Ning Lia berharap bedah buku Diaspora Madura dapat menjadi ruang untuk membangun kebanggaan terhadap identitas Madura sekaligus mengajak generasi muda mengambil nilai positif dari perjalanan para pendahulunya.
“Semoga anak cucu kita menjadi jiwa-jiwa pejuang dan Madura terus memberikan kontribusi bagi keberhasilan bangsa,” pungkasnya.
Bedah buku tersebut turut menghadirkan perwakilan Gubernur Jawa Timur, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur Muhammad Isa Anshori, Ketua MUI Pusat KH Masduki Baidlowi, Rektor Universitas Trunojoyo Madura Prof. Dr. Syaiful, SH., MH., penulis buku Dr. Abdur Rozaki, serta CEO Harian Bangsa H. Mas’ud Adnan.
Sejumlah ulama juga hadir, di antaranya KH Muhammad Ali Kholil, KH Abd Kadir Rofii, KH Makki Nashir, KH Imam Buchori Cholil, KH Ali Rahbini Latif, KH Hasani Zubair, KH Muhdhor Abdullah, KH Mondir Rofii, dan KH Sufyan Absi. (Red)


Komentar