|
Menu Close Menu

Nonton Lebih Awal Film Istimewa, Anggota DPD RI Lia Istifhama Ungkap Pesan Humanisme

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00.30 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat Nonton Lebih Awal Film Istimewa di Pakuwon XXI, Surabaya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Film Istimewa tak hanya menyajikan kisah perjuangan penyandang disabilitas, tetapi juga membawa pesan kuat tentang kemanusiaan, keluarga, kemandirian, dan kepedulian terhadap sesama.


Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Nonton Lebih Awal Film Istimewa di Pakuwon XXI, Sabtu (15/8/2026). Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, hadir bersama para konten kreator se-Jawa Timur untuk menyaksikan film yang mengangkat kisah perjuangan lima anak penyandang disabilitas.


Hadir pula Purnomo Polisi Tidur dan sejumlah konten kreator lainnya. Sejumlah pemain film turut hadir dalam kegiatan tersebut.


Mengenakan atasan batik merah, Ning Lia memberikan dukungan terhadap film Istimewa yang dijadwalkan resmi tayang pada 17 September 2026.


Film Istimewa mengangkat kisah nyata perjuangan lima anak penyandang disabilitas bersama sosok ayah mereka, Abdullah Mansuri atau yang akrab disapa Ayah Mans.


Kisah yang diangkat tidak hanya berbicara tentang keterbatasan. Film ini juga menggambarkan arti keluarga, kemandirian, ketangguhan, serta bagaimana seseorang tetap memiliki nilai dan peran penting bagi orang lain.


Ayah Mans berharap film tersebut dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.


“Saya ucapkan terima kasih kepada DPD RI Lia Istifhama yang berkenan menonton film ini. Yang peduli dan sayang dengan anak-anak istimewa,” katanya.


Ia berharap penonton tidak hanya terbawa emosi setelah menyaksikan film, tetapi juga membawa perubahan cara pandang dalam kehidupan sehari-hari.


“Setelah menonton Istimewa, saya berharap kita bisa pulang dengan cara melihat yang sedikit berbeda. Jangan hanya melihat teman-teman Istimewa dari kondisi mereka, tetapi lihat manusia dan segala hal baik yang ada di dalam dirinya,” ujar Ayah Mans.


Menurutnya, film tersebut akan memiliki makna lebih besar apabila pesan yang disampaikan mampu diwujudkan dalam kehidupan nyata.


“Kalau itu mulai terjadi, berarti film ini sudah melakukan sesuatu,” imbuhnya.


Sementara itu, Anggota DPD RI Lia Istifhama menilai Istimewa sarat dengan pesan humanisme yang relevan dengan kehidupan masyarakat.


Menurut Ning Lia, film tersebut mengajak penonton melihat manusia secara utuh, bukan menilai seseorang berdasarkan kekurangan atau kondisi fisiknya.


“Ada beberapa nilai humanis yang bisa kita ambil dari film ini. Salah satunya adalah jangan pernah merasa sendiri atau loneliness, karena selalu ada keluarga dan orang-orang yang peduli serta memikirkan kita,” ujar Ning Lia.


Senator Jatim tersebut juga menilai kisah dalam film itu mengajarkan pentingnya ketangguhan dan kemandirian.


Namun, menurutnya, mandiri bukan berarti harus menjalani kehidupan seorang diri. Setiap manusia tetap membutuhkan orang lain untuk saling melengkapi.


“Kerja bersama dan saling melengkapi itu penting. Tidak ada manusia yang sempurna. Justru karena kita memiliki keterbatasan, kita membutuhkan satu sama lain,” katanya.


Pesan lain yang disoroti Ning Lia adalah pentingnya integritas diri. Ia menilai seseorang harus memiliki prinsip yang kuat dan mampu mempertahankannya tanpa mudah dipengaruhi orang lain.


“Integritas berarti kita punya komitmen menjaga prinsip diri sendiri secara merdeka, tanpa mudah dipengaruhi oleh orang lain,” jelas senator yang peduli dengan anak-anak istimewa tersebut.


Tak hanya berbicara mengenai keluarga, kemandirian, ketangguhan, dan integritas, Ning Lia juga mengingatkan masyarakat agar berani bertindak ketika mengetahui adanya tindak kejahatan, termasuk perdagangan orang atau human trafficking. 


Menurutnya, kepedulian terhadap korban tidak cukup hanya diwujudkan melalui rasa kasihan. Masyarakat harus berani mengambil tindakan dengan melaporkan dugaan kejahatan kepada pihak berwajib.


“Kalau kita mengetahui adanya kejahatan human trafficking, kita harus tegas peduli dan melaporkannya kepada pihak berwajib. Kepedulian tidak cukup hanya dengan merasa kasihan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan,” tegasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar