|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Ning Lia Minta Pemuda Berani Speak Up

Sabtu, 05 September 2026 | 19.35 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat jadi narasumber di Universitas Al Hikmah Indonesia, Tuban. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Tuban- Generasi Z (Gen Z) diminta tidak alergi politik dan berani menyuarakan aspirasi secara kritis namun santun. Langkah ini penting agar arah kebijakan bangsa ke depan tidak lepas dari genggaman anak muda lokal.


​Pesan tegas tersebut disampaikan Anggota DPD RI, Dr Lia Istifhama, saat menjadi dosen tamu dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Al Hikmah Indonesia di Tuban, Sabtu (5/9/2026).


​Di hadapan ratusan mahasiswa baru, politikus muda yang akrab disapa Ning Lia ini membawakan materi bertajuk "Meritokrasi sebagai Pilar Kampus Berdampak dan Berdaya Saing Global". Ia menekankan bahwa esensi kepemimpinan terletak pada tindakan nyata, bukan sekadar jabatan (leadership is action, not position).

​"Jadilah pribadi yang berperan, jangan sampai baperan," cetus senator asal Surabaya tersebut.


​Manfaatkan Medsos untuk Speak Up yang Solutif


​Di era digital, Ning Lia mendorong Gen Z untuk aktif mengawal isu sosial melalui media sosial. Namun, ia mengingatkan agar aksi speak up tersebut diarahkan untuk memberi kritik konstruktif, bukan sekadar provokasi demi memburu popularitas.


​"Bila ada sebuah permasalahan, speak up melalui media sosial boleh dan sangat boleh. Tapi jangan menjadikan momen tersebut untuk viral atau tenar yang justru berpotensi menjatuhkan pihak lain. Yang harus dilakukan tetap speak up namun memberikan solusi," tegasnya.


​Ning Lia juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum berbasis konstitusi (nomokrasi). Dalam sistem demokrasi, tidak semua aspirasi dapat langsung dipenuhi karena harus melalui proses pembahasan dan pemungutan suara. Meski demikian, ia meminta mahasiswa tidak berkecil hati jika pendapatnya belum terakomodasi.


​Minta Pemuda Melek Politik agar Kursi Parlemen Tak Diisi Migran


​Lebih lanjut, Ning Lia membagikan ilustrasi dari sebuah negara di mana pemudanya enggan terlibat politik karena menganggap negerinya sudah sejahtera. Alhasil, kuota parlemen di negara tersebut justru diisi oleh kaum migran.


​"Terus pemuda bangsa jadi apa? Apakah rela parlemen Indonesia diisi oleh orang migran? Makanya pemuda Indonesia harus jadi pemuda yang melek politik agar kursi legislatif tetap diisi oleh para pemuda Indonesia," ujar Ning Lia.


​Reses Jadi Bukti Pertanggungjawaban Wakil Rakyat


​Dalam sesi tanya jawab, Ali Usman Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah melayangkan pertanyaan terkait cara menghadapi sentimen negatif atau pandangan ragu (suudzon) masyarakat terhadap kinerja wakil rakyat di DPR/DPD.


​Menjawab hal itu, Ning Lia menjelaskan bahwa setiap anggota dewan memiliki kewajiban menjalankan masa reses untuk turun langsung bertemu konstituen di daerah pemilihan (dapil).


​Melalui reses, wakil rakyat menggali keluhan, kebutuhan, dan masukan masyarakat secara langsung sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan politik. Aspirasi tersebut kemudian dirangkum menjadi Pokok Pikiran (Pokir) untuk dibawa ke Rapat Paripurna serta ditindaklanjuti ke pemerintah daerah.


Paparan Ning Lia mendapatkan sambutan hangat dari ratusan mahasiswa Universitas Al Hikmah yang memberikan love sign kepada senator cantik  ning Lia sebelum meninggalkan ruangan. 


​Sementara itu, Rektor Universitas Al Hikmah Tuban, Dr Laily Hidayati, S.Psi, M.Psi, Psikolog, mengungkapkan alasannya kembali mengundang Ning Lia sebagai pembicara pada PBAK tahun ini. Menurutnya, Ning Lia merupakan sosok yang konsisten memberi perhatian besar terhadap dunia pendidikan dan mampu memberikan inspirasi nyata bagi para mahasiswa. (Red) 

Bagikan:

Komentar