Oleh: Firman Syah Ali
Lensajatim.id, Opini- Banyak yang menulis artikel catatan kritis terhadap Muktamar ke-35 NU, ada juga Renungan Hasil Muktamar, ada juga Kontemplasi, Refleksi dan sejenisnya. Kali ini ijinkan saya sebagai Romli menulis catatan yang asyik-asyik saja tentang Muktamar ke-35.
Kenapa Muktamar ke-35 saya sebut asyik?
Pertama, karena lokasi Muktamar di Bumi Muassis, jadi kita bisa sering-sering ziarah ke maqbarah para Muassis.
Kedua, karena ramai sekali isu penculikan. Sebetulnya sudah rahasia umum bahwa culik-menculik, sekap-menyekap terjadi sejak dulu, tapi kenapa baru sekarang jadi heboh dan terdengar ramai sekali sehingga media sosial menjadi sangat meriah.
Ketiga, karena bertemu kembali dengan banyak teman yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. Betapa mahalnya ongkos pesawat untuk bertemu mereka kalau bukan karena ada Muktamar. Bahkan saya bertemu sahabat dari Malaysia walau sekilas.
Keempat, karena bisa berpetualang dari posko ke posko, dari basecamp ke basecamp. Selama Muktamar berlangsung secara resmi saya tinggal di basecamp Majelis Alumni IPNU dengan Shohibul Bait Gus Edo (mantan Ketum PP IPNU). Tapi dalam prakteknya sering ngelayap dan tertidur di posko-posko lain, seperti Posko PB IKA PMII, Posko Gerakin, Posko Ansor Tua, Posko Gawagis, dan banyak lagi lainnya. Kalau tidak salah ada Posko dokter-dokter NU juga seniman-seniman NU tapi saya tidak sempat mampir.
Kelima, karena begitu muktamar ditutup, semua mantan kandidat dan timses berkumpul dengan ceria dan jiwa besar. Mereka bersalam-salaman dengan riang gembira. Setidaknya yang kepergok saya, entahlah mungkin ada juga yang saling cemberut tapi saya tidak lihat.
Ketujuh, karena Muktamar dibuka sekaligus ditutup oleh Presiden RI. Pertama kali dalam sejarah Indonesia.
Kedelapan, karena Pengurus Pusat MA IPNU membuat ID Card bertuliskan VIP, sehingga dengan ID Card tersebut saya sebagai Romli bisa menjadi hadir-in bukan hadir-out dalam seremoni pembukaan dan penutupan Muktamar.
Kesembilan, karena PB IKA PMII menggelar kegiatan yang berkualitas secara intelektual dan dihadiri oleh banyak kader dari berbagai kalangan.
Kesepuluh, karena berlanjutnya pertunjukan Indahnya berbagi KARTANU. Dulu ada pemberian KARTANU kepada Setya Novanto, Jokowi, dilanjut Eric Thohir, dan sekarang Pak Prabowo Subianto. Orang tau kalau beliau-beliau bukan warga NU, setidaknya secara administratif. Pemberian Kartanu kepada beliau-beliau merupakan hiburan tersendiri.
Tentang riak-riak pra Muktamar beserta kehebohan-kehebohan nakal ala para pelaku pansos itu sudah biasa. Tentang kekecewaan karena Rois Aam yang terpilih tidak sesuai harapan itu juga biasa. Yang penting NU tetap guyub rukun sambil sesekali bertengkar asyik tipis-tipis.
*) Penulis adalah salah satu Rombongan Liar (Romli) Muktamar ke-35 NU


Komentar