|
Menu Close Menu

BBM Langka, TEP 13 ITS Hadirkan PLTS untuk Tekan Biaya Operasional Pertanian di Oransbari

Senin, 14 September 2026 | 18.39 WIB

LENSAJATIM.ID - Manokwari Selatan – Ketergantungan terhadap bahan bakar diesel untuk penggilingan padi menjadi tantangan bagi petani di Kampung Margomulyo, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan. Menjawab persoalan tersebut, Tim 13 Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang diketuai oleh Prof Dr Ir Imam Robandi MT IPU merancang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mesin penggilingan dan penerangan jalan umum.


Kampung Margomulyo saat ini hanya memiliki satu penggilingan padi milik pribadi dengan kapasitas terbatas. Kondisi tersebut membuat sebagian petani harus membawa hasil panen ke kampung lain untuk digiling.


“Di Kampung Margomulyo sendiri sampai saat ini belum tersedia penggilingan padi yang dapat menampung seluruh hasil panen masyarakat. Kalaupun ada, hanya terdapat satu penggilingan padi dan itu pun milik pribadi,” ungkap Kepala Kampung Margomulyo, Jumat (4/9/26).


Selain keterbatasan kapasitas, pengoperasian penggilingan yang masih mengandalkan bahan bakar diesel juga menjadi persoalan. Biaya operasional yang relatif tinggi serta ketersediaan bahan bakar yang tidak selalu mudah diperoleh membuat penggunaan diesel kurang ideal.


Kondisi ini menjadi latar belakang TEP 13 ITS merancang sistem energi alternatif berbasis tenaga surya untuk mendukung pengoperasian mesin penggilingan padi. Sistem PLTS.


Ketua Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 13 ITS, Prof Dr Ir Imam Robandi MT IPU (kanan) bersama Febriza A Kasihiw SM ME (kiri) setelah berbincang membahas penempatan alat penggiling padi dan panel surya di Kampung Margomulyo, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan


“Program pemanfaatan energi matahari untuk penggilingan padi dan juga penerangan jalan adalah sangat strategis. Kementerian Transmigrasi RI yang menggandeng para ahli ITS yang diterjunkan di Kawasan Transmigrasi Distrik Oransbari adalah sebuah format riset terapan yang dapat dikembangkan dalam skala yang lebih luas,” ujar ketua Tim 13 TEP ITS, Prof Dr Ir Imam Robandi MT IPU, Jumat (4/9).


Pria yang kerap dikenal dengan sebutan Prof. Iro tersebut juga menilai program ini dapat menjadi jembatan kerja sama antara ITS dan masyarakat Papua. Menurutnya, potensi pertanian Margomulyo yang subur dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan.


Selain sektor pertanian, TEP 13 ITS juga merancang pengadaan penerangan jalan umum berkapasitas 80 Wp. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas masyarakat pada malam hari sekaligus meningkatkan aksesibilitas dan keamanan lingkungan permukiman.


Kegiatan yang berlangsung pada Agustus hingga November 2026 ini juga didukung oleh anggota tim, Muhammad Rizqi Mardhotillah SPwk, Amri Diensyah Hufadz Abdullah ST, Kurnia Marika Gadis Kirana SPwk, Siti Nur Kholifah SPwk, dan Nareswari Cantika Nurmansyah SAk. Adapun penerima manfaat yang dituju meliputi petani, perangkat Kampung Margomulyo, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margomulyo.


Brigjen Pol Muhammad Iqbal SIK MSi (kanan) saat berdiskusi mengenai topik Tim 13 Ekspedisi Patriot ITS bersama Anggota Tim 13 Nareswari Cantika Nurmansyah SAk (tengah) dan Amri Diensyah Hufadz Abdullah ST (kiri).


Tim 13 Ekspedisi Patriot ITS berharap masyarakat Kampung Margomulyo dapat memiliki alternatif sumber energi yang lebih mandiri untuk mendukung aktivitas produktif. Ke depan, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan sistem pengolahan pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan.


Upaya TEP 13 ITS sejalan dengan SDGs poin ke-7 Energi Bersih dan Terjangkau, sekaligus mendukung poin ke-2 Tanpa Kelaparan melalui penguatan produktivitas pertanian, poin ke-8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta poin ke-9 Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui penerapan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.


Pada akhirnya, rancangan PLTS dan penggilingan padi di Kampung Margomulyo diarahkan untuk menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Harapan lebih jauh dari program ini adalah tumbuhnya model riset terapan yang dapat dikembangkan di kawasan transmigrasi lainnya. (*)

Bagikan:

Komentar