![]() |
| Candra Wibowo menyiapkan pesanan kimbab yang di produksi sendiri. (Dok/Candra) |
Candra mengaku sebelumnya tidak begitu mengenal makanan Korea. Namun, setelah mencoba sushi kimbab yang dibelinya saat mencari takjil, ia merasa rasanya masih cocok dengan lidah masyarakat Indonesia.
“Bermula dari pacar saya yang mengajak mencari takjil. Kebetulan ada yang jualan sushi kimbab, kemudian saya coba dan ternyata masih masuk di lidah orang Indonesia,” ujar Candra, Kamis (3/9/2026).
Saat itu, Candra memang sudah memiliki keinginan untuk membuka usaha, tetapi belum menentukan produk yang akan dijual. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mencari resep dan mempelajari cara membuat kimbab secara mandiri.
Setelah beberapa kali mencoba hingga mendapat hasil yang dinilai sudah mendekati kimbab yang pernah ia cicipi, Candra akhirnya memutuskan menjadikannya sebagai usaha. Ia mulai menjalankan usaha tersebut sejak akhir April 2026.
Pilihan kimbab juga dinilai sesuai dengan kondisinya sebagai mahasiswa yang masih tinggal di kos. Proses pembuatannya dapat dilakukan dari kos dan Candra tidak perlu membawa banyak peralatan memasak ke lokasi berjualan.
Untuk penjualan, Candra membuka lapak di Jalan Raya Telang, Kabupaten Bangkalan. Selain datang langsung ke lapak, pembeli juga dapat melakukan pemesanan melalui WhatsApp dan akun TikTok miliknya.
Saat ini, Candra menawarkan tiga varian kimbab, yakni kimbab original, kimbab crabs, dan kimbab crispy. Selain itu, tersedia pula sushi nigiri dengan berbagai pilihan frozen food serta sushi gunkan dengan varian ayam suwir, ayam spicy, dan kornet BBQ.
Menariknya, pembeli juga dapat mencampurkan beberapa varian dalam satu pesanan. Candra juga memberikan kebebasan kepada pembeli untuk melakukan request sesuai pilihan varian yang tersedia.
Menurut Candra, salah satu bagian tersulit dalam proses pembuatan kimbab adalah menggulung dan memotongnya. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian serta kebiasaan karena harus dilakukan berulang kali agar mendapatkan bentuk yang sesuai.
Seluruh proses produksi masih dilakukan sendiri. Mulai dari mengolah bahan mentah hingga makanan siap disajikan, Candra membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam. Ia juga harus menyesuaikan penggunaan dapur dengan penghuni kos lainnya sehingga terkadang proses produksi menjadi lebih lama.
“Karena masih ngekos, dapurnya harus bergantian dengan anak kos yang lain. Jadi kadang harus bolak-balik dari kamar ke dapur,” tuturnya.
Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, masyarakat umum hingga anak-anak. Namun, mahasiswa menjadi pelanggan yang paling banyak membeli.
Candra mengatakan, salah satu hal yang ditawarkan kepada pembeli adalah harga yang relatif terjangkau. Selain itu, pembeli juga dapat meminta tambahan saus dan mendapatkan chili oil secara gratis.
Meski masih tergolong baru, Candra mulai memiliki rencana untuk mengembangkan usahanya. Ia ingin menambah varian baru setelah melakukan riset terlebih dahulu agar menu yang ditawarkan tetap sesuai dengan selera pembeli.
Ke depan, Candra juga memiliki keinginan untuk memiliki tempat usaha sendiri berupa mini restoran dengan konsep open kitchen. Dengan konsep tersebut, pelanggan tidak hanya dapat menikmati makanan di tempat, tetapi juga melihat langsung proses pembuatannya.
“Harapannya bisa memiliki tempat seperti mini resto yang open kitchen, jadi pembeli bisa makan di tempat sambil melihat cara masaknya. Dari situ akan lebih mudah kalau suatu saat ingin membuka cabang di daerah lain,” ungkapnya. (Tik)


Komentar